Tampilkan postingan dengan label mamalia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mamalia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2020

Mengenal Dua Spesies "Gajah" di Dunia

Gajah adalah mamalia besar dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea.

Terdapat dua spesies Gajah di Dunia, yaitu Gajah Afrika (Loxodonta africana) dan Gajah Asia (Elephas maximus).

 Gambar 1. Gajah Asia (Kiri) --- Gajah Afrika (Kanan)

Gajah merupakan hewan herbivora pemakan rumput, buah, dan akar yang dapat ditemui di berbagai habitat, seperti sabana, hutan, gurun, dan rawa-rawa dan mereka lebih cenderung berada di dekat sumber air.

Gambar 2. Perbedaan Gajah Asia dengan Gajah Afrika

Mamalia darat terbesar ini berukuran 2 sampai 3,6 meter dan memiliki ciri-ciri khusus, yaitu Belalai (proboscis), Gading (Gigi seri yang panjang), Telinga lebar dan Kulit tebal.

Gambar 3. Gajah Sumatera jantan TS Lembah Hijau Lampung

Nah, kamu tahu apa fungsi dari Belalai,  Gading, Telinga lebar dan kulit tebal pada Gajah tersebut?Yuk, kita belajar tentang gajah.

1. BELALAI (Proboscis)
Belalai adalah penggabungan hidung dengan bibir atas, walaupun pada tahap fetus bibir atas dan belalai masih terpisah. Belalai gajah panjang dan terspesialisasi agar dapat dengan mudah digerakkan. Belalai memiliki kurang lebih 150.000 fasikulus otot, tanpa tulang dan sedikit lemak.

Gambar 4. Gajah Sumatera menyabut rumput untuk dimakan - TS Lembah Hijau Lampung

Terdapat dua jenis otot: superfisial (di permukaan) dan internal.
Otot superfisial terbagi menjadi otot dorsal, ventral, dan lateral, sementara otot internal terbagi menjadi otot melintang dan menyebar. Otot-otot belalai terhubung dengan tulang di tengkorak.
Sebagai bentuk hidrostat otot, belalai digerakkan dengan mengkoordinasi kontraksi otot secara tepat. Otot-otot bekerja bersama dan berlawanan satu sama lain. Saraf proboscis yang unik – yang terbentuk dari saraf maksilaris dan fasialis – menjalar di kedua sisi belalai.

Belalai gajah memiliki beberapa fungsi, seperti bernapas, mencium bau, menyentuh, menggapai, dan menghasilkan suara.

Gambar 5. Gajah Sumatera minum air sungai menggunakan bebalai - TS Lembah Hijau Lampung

Indra penciuman gajah mungkin empat kali lebih sensitif daripada anjing bloodhound. Kemampuan belalai untuk melintir dan melingkar memungkinkan pengambilan makanan, bergelut dengan sesamanya, dan mengangkat beban dengan massa hingga 350 kg.

Belalai gajah dapat pula digunakan untuk menyeka mata dan memeriksa lubang pada tubuhnya.

Dengan belalainya, gajah dapat menjangkau ketinggian hingga 7 m dan menggali untuk mencari air di bawah lumpur atau pasir.

Gambar 6. Gajah Sumatera menjangkau maknan - TS Lembah Hijau Lampung

Gajah dapat menghisap air untuk diminum atau disiramkan ke tubuh mereka. Gajah asia dewasa dapat menampung 8,5 liter air di belalainya. Mereka juga menyemprotkan debu atau rumput pada diri mereka sendiri.

Selain itu, saat berada di bawah air, gajah menggunakan belalainya sebagai snorkel untuk bernapas.

Gambar 7. Gajah Sumatera bermain air - TS Lembah Hijau Lampung

Pada Gajah afrika, memiliki dua perpanjangan yang berbentuk seperti jari di ujung belalai, yang memungkinkannya untuk menjangkau dan mengangkut makanan ke mulutnya. Sedangkan, Gajah asia hanya memiliki satu perpanjangan, dan biasanya membelit makanan dengan belalainya dan kemudian memasukkannya ke mulutnya.

Tanpa belalai, gajah sulit bertahan hidup, walaupun terdapat beberapa contoh gajah dengan belalai pendek yang berhasil bertahan (Gajah erin di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur).

Gambar 8. Gajah Sumatera "Erin" yang bebalainya putus karena jerat - Taman Nasional Way Kambas - Lampung

2. GADING (Gigi Seri yang panjang)
Gajah memakan kulit pohon dengan menggunakan gading untuk mengupasnya.
Gading gajah merupakan modifikasi gigi seri kedua di rahang atas

Gambar 9. Gajah Sumatera mencari makan -  TS Lembah Hijau Lampung

Gading tersebut menggantikan gigi susu ketika gajah berumur 6–12 bulan dan tumbuh sekitar 17 cm per tahun.
Gading yang baru tumbuh memiliki lapisan enamel yang nantinya akan luntur. Dentin pada taring disebut gading dan dipenampang melintang terdapat pola garis yang berselang-seling, yang menghasilkan area berbentuk berlian.

Sebagai jaringan yang hidup, Gading sendiri relatif rembut; gading gajah kurang lebih sekeras mineral kalsit.
Sebagian besar gading dapat dilihat dari luar, sementara sisanya melekat pada sendi di tengkorak. Paling tidak sepertiga taring merupakan pulpa dan beberapa taring memiliki saraf yang membentang hingga ke ujung.

Gambar 10. Dua ekor Gajah Sumatera jantan TS Lembah Hijau Lampung

Gading memiliki beberapa fungsi, seperti digunakan untuk menggali untuk menemukan air, garam, dan akar; menguliti atau menandai pohon; dan menyingkirkan pohon dan cabang yang menghalangi jalan. Saat sedang berkelahi, gading digunakan untuk menyerang dan bertahan, serta untuk melindungi belalai.

Gambar 11. Gajah Sumatera jantan yang sedang berkelahi - TS Lembah Hijau Lampung

Seperti manusia yang memiliki preferensi menggunakan tangan kanan atau kiri, gajah juga memiliki preferensi dalam menggunakan gading kiri atau kanannya. Gading yang dominan biasanya tampak sudah sering digunakan karena biasanya lebih pendek dan memiliki ujung yang lebih tumpul.

               Gambar 12. Gajah Afrika

Pada gajah Afrika, baik jantan maupun betina sama-sama memiliki gading, dan panjangnya kurang lebih sama (yaitu mencapai 3 m), namun gading jantan cenderung lebih tebal.
Sementara, pada Gajah asia hanya jantan yang memiliki gading besar. Sedangkan, gajah betina memiliki gading yang sangat kecil dan rapuh (disebut "Caling"), atau bahkan tidak ada sama sekali.
Terdapat pula gajah jantan yang tak bergading, biasa disebutnya dengan sebutan gajah "Dugul".

Gambar 13. Gajah jantan tak bergading (Dugul) - Taman Nasional Way Kambas Lampung

Gading akan terus tumbuh seumur hidup gajah dan biasanya gading gajah jantan tumbuh sekitar 17 sentimeter tiap tahunnya.
Panjang Gading gajah Asia jantan dapat menyamai gading gajah Afrika, tetapi gading gajah Asia biasanya lebih tipis dan ringan; gading gajah Asia terbesar yang pernah diketahui memiliki panjang 3,02 m dan massa 39 kg.

Gading bagi gajah bukan sekadar hiasan unik semata.
Gading gajah memiliki banyak fungsi, misalnya untuk mengambil air, mengangkat batang pohon, bertarung dengan gajah lain, dan melindungi dirinya dari hewan lain.
Gading juga digunakan gajah untuk menandai wilayah kekuasaan mereka dan juga menjadi alat mereka mencari pasangan. Bagi gajah betina, gading yang besar akan membuat gajah jantan terlihat lebih menarik.

Gambar 14. Gajah Sumatera kawin alami - TS Lembah Hijau Lampung

Namun ironisnya, gading tersebut juga yang membuat gajah banyak diburu oleh manusia.

3. TELINGA
Telinga gajah Afrika dua kali lebih besar dari gajah Asia.
Telinga gajah Afrika lebih besar dan berbentuk kotak. Sedangkan gajah Asia, lebih kecil dan berbentuk segitiga.

Gambar 15. Sepasang Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

Pada gajah, telinga berfungsi untuk mengontrol suhu tubuh gajah. Gajah  akan mengepakkan telinga pada saat suhu panas, darah beredar di berbagai pembuluh darah telinga; darah kembali ke kepala dan tubuh sehingga tubuh gajah menjadi dingin, karena gajah mengalami kesulitan dalam mengeluarkan panas dari kulitnya karena rasio luas permukaan terhadap volumenya yang jauh lebih rendah dari manusia selain itu telinga juga bermanfaat untuk menunjukkan peringatan saat ada bahaya atau gajah sedang marah.

Gambar 16. Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

4. KULIT
Kulit gajah pada umumnya sangat keras, dengan ketebalan 2,5 cm di punggung dan sebagian kepalanya. Kulit di sekitar mulut, anus, dan di dalam telinga jauh lebih tipis. Warna kulit gajah pada umumnya abu-abu, tetapi gajah Afrika tampak berwarna kecoklatan atau kemerahan setelah berkubang di lumpur.

Gambar 17. Gajah Sumatera bermain lumpur - TS Lembah Hijau Lampung

Pada kulit Gajah Asia terdapat tanda-tanda depigmentasi, terutama di dahi, telinga, dan kulit di sekitarnya.
Anak gajah memiliki rambut yang berwarna kecoklatan atau kemerahan, terutama di kepala dan punggungnya. Begitu gajah menjadi dewasa, rambut mereka menjadi lebih gelap dan jarang, tetapi konsentrasi rambut dan rambut kejur (bristle) yang padat masih dapat ditemui di ujung ekor, dagu, alat kelamin, dan di sekitar mata dan bukaan mata.
Gajah Asia umumnya memiliki lebih banyak rambut daripada gajah Afrika.
Gambar 18. Depigmentasi pada Belalai Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

Gajah menggunakan lumpur untuk melindungi kulitnya dari sinar ultraviolet, walaupun kulit gajah sebenarnya sangat sensitif. Bila gajah tidak secara rutin berkubang dalam lumpur, kulitnya akan mengalami kerusakan akibat sinar matahari, gigitan serangga, dan hilangnya kelembaban.

Gambar 19. Gajah Sumatera yang sedang beekubang dan bermain lumpur - TS Lembah Hijau

Setelah berkubang, gajah biasanya menggunakan belalainya untuk menyemburkan debu ke tubuhnya, dan debu ini akan mengering menjadi kerak pelindung.
Gambar 20. Gajah Sumatera menyemburkan debu ke tubuhnya - TS Lembah Hijau Lampung

STATUS

IUCN

Pada tahun 2011, IUCN menetapkan status konservasi gajah sumatera ke dalam kategori Critically Endangered (CR). Artinya, satwa ini berada diambang kepunahan. Status CR berada hanya dua tingkat dari status punah di alam liar dan punah sepenuhnya.18

Hukum Republik Indonesia
Status konservasi gajah sumatera dalam sistem hukum di Indonesia termasuk satwa yang dilindungi oleh UU No.5 tahun 1990 dan PP 7/1999. Perlindungan diberikan karena ancaman terhadap kelangsungan hidupnya semakin besar. Ancaman terbesar datang karena rusaknya habitat karena berebut dengan lahan perkebunan dan pertanian. Sehingga sering kali terjadi konflik dengan manusia. Ancaman lain karena perburuan untuk diambil gadingnya.

Demikian sekilas tentang satwa Gajah yang selama ini ada berdampingan dengan kehidupan kita, seyogyanya sebagai Mahluk Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini kita hendaklah berlaku bijak dan punya tanggung jawab bersama dalam melindungi kelangsungan hidup satwa ini yang sangat terancam punah ini.

Salam Konservasi, Salam Lestari!!!


DAFTAR PUSTAKA:

1. Gajah Sumatera dan Gajah Afrika Berbeda. Biodiversity Warrior.

2. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007-2017. Departemen Kehutanan RI.

3. Sumatran Elephant (Elephas maximus ssp.sumatranus). IUCN.

4. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gajah

5. (http://babies-dangerous-wild-animals.blogspot.co.id/) (Dewi Setyawan)

6. Gajah (http://babies-dangerous-wild-animals.blogspot.co.id/) (Dewi Setyawan)

7. Gading gajah. (malangtoday.net)



Rabu, 25 November 2020

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) Satwa Endemik Sumatera

Gajah Sumatera adalah salah satu satwa endemik Indonesia yang berasal dari pulau Sumatera, yang artinya satwa ini habitat aslinya hanya terdapat di pulau Sumatera, mulai dari provinsi Aceh sampai provinsi Lampung. Gajah Sumatera termasuk kedalam sub spesies Gajah Asia dengan nama ilmiahnya Elephas maximus sumatrensis.

Gambar 1. Gajah Sumatera Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Selain Gajah Sumatera, yang termasuk kedalam sub spesies Gajah Asia lainnya adalah Elephas maximus indicus dan Elephas maximus maximus.

Gajah Sumatera termasuk hewan sosial yang hidup secara berkelompok di hutan-hutan dataran rendah pulau Sumatera, yang mana setiap kelompok dipimpin oleh satu ekor Gajah betina yang dituakan. Pemimpin kelompok ini lah yang akan memimpin sekawanan Gajah untuk berjalan mencari sumber pakan dan air. Setiap kelompok gajah terdiri dari beberapa ekor Gajah betina dan anak-anaknya, jumlah setiap kelompok ini pun bervariasi, ada yang berjumlah 20-35 ekor dan ada juga yang hanya berjumlah 3 ekor saja.

Gajah jantan yang telah dewasa akan keluar dan menjauh dari kelompok tetapi tetap mengikuti dan memantau kawanan kelompok Gajah dari kejahan dan akan kembali masuk kedalam kelompok jika ada diantara Gajah betina yang sedng birahi atau telah siap untuk dikawinkan. Sedangkan Gajah tua akan memisahkan diri dari kelompok hingga pada akhirnya ia mati.

Pada Gajah Sumatera, terdapat beberapa ciri-ciri khusus yang dapat dilihat dari bentuk fisiknya, seperti:

1.Berat badan Gajah berkisar 3-4 ton, dengan tinggi antara 2-3 meter,
2.Pada bagian atas kepala Gajah Sumatera terdapat dua tonjolan, sedangkan pada gajah afrika lebih rata/ datar,
3.Telinga pada Gajah Sumatera lebih kecil dan berbentuk segitiga, sedangkan pada Gajah Afrika lebih besar dan berbentuk kotak,
4.Pada kaki bagian depan Gajah Sumatera terdapat 5 buah kuku dan 4 buah kuku pada kaki bagian belakang, sedangkan pada Gajah Afrika memiliki 4 buah kuku pada kaki bagian depan dan 3 buah kuku pada kaki bagian belakang,
5.Gading pada Gajah Sumatera hanya terdapat pada Gajah jantan dan pada Gajah betina lebih pendek (disebut Caling) atau cenderung tidak ada.
Sedangkan Gajah Afrika pada Gajah jantan dan betina, keduanya sama memiliki gading.
6.Warna kulit pada Gajah Sumatera lebih terang dan sering terdapat flek putih kemerahan atau disebut Depigmentasi.

Gambar 2. Gajah Sumatera Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Untuk mencari sumber pakan dan air, kawanan gajah akan terus bergerak dan berjalan sejauh 20 Km² setiap hari nya. Dalam sehari, gajah hanya  tidur selama 4 jam dan 16 jam lainnya digunakan gajah untuk bergerak menjelajah dan mencari makan dan air, sisa waktunya digunakan untuk bermain dan berkubang (bermain lumpur).

Gambar 3. Gajah Sumatera bermain lumpur -Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Gajah Sumatera membutuhkan makanan hingga 250 Kg (setara dengan 5-10% dari berat badannya). Makanan Gajah Sumatera adalah rerumputan, dedaunan, ranting, buah dan juga umbi-umbian. Sedangkan untuk minum, Gajah Sumatera membutuhkan 160 liter air setiap harinya.

Pada Gajah Sumatera jantan yang berumur 12-15 tahun akan mengalami periode “Musth”, yaitu masa dimana produksi hormon testoteron akan meningkat yang menandakan bahwa gajah jantan sudah siap kawin. Pada saat musth gajah jantan mengalami perubahan perilaku, lebih agresif, nafsu makan menurun dan suka mengendus-enduskan belalainya.

href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg62pGYJH8kYTkhjfuiRwTOjeu_0bdd3PD2wJ7TAwUPbipBIvNCDkUE4bx3DG8GN1z3zCk6jSOZWTKMgYJjuBZ1f8BglUG2sx1J3BM8K7Aah4-1qh_zAghDz_g4W2IJutV7xUefcuW-i00/s1600/1606317962177752-2.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;">

Selain itu, terjadi perubahan fisik seperti penis yang sering keluar, sering meneteskan urin dan pada dahi (diantara mata dan telinga) akan mengeluarkan cairan berminyak yang berbau khas dan menyengat.

Gambar 5. Gajah Sumatera jantan - Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Sedangkan pada Gajah betina akan siap kawin saat berumur 9-10 tahun. Usia kehamilan Gajah Sumatera adalah selama 20-22 bulan. Dalam satu kali kehamilan biasanya terdapat satu ekor bayi gajah. Bayi normal Gajah Sumatera yang baru lahir memiliki bobot tubuh sekitar 80-100 Kg dengan tinggi berkisar 75-100 cm. Bayi gajah diasuh induknya hingga berumur 18-24 bulan dengan jarak antar kehamilan sekitar 4-6 tahun.

Gambar 6. Gajah Sumatera (Jantan dan Betina) - Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Karena rusaknya habitat gajah akibat pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat serta pembunuhan akibat konflik dan juga perburuan, mengakibatkan populasi gajah Sumatera semakin terancam dan jumlahnya yang semakin berkurang.

Status Konservasi Gajah Sumatera masuk kedalam daftar Satwa yang dilindungi oleh UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dan diatur oleh PP. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan satwa Liar.

Sedangkan Lembaga Konservasi Dunia IUCN, Gajah Sumatera berada dalam status Kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah spesies terancam punah.

Demi tercapainya Pelestarian dan penyelamatan Gajah Sumatera dari kepunahan,

Gambar 7. Gajah Sumatera yang sedang kawin - Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Diperlukannya kerjasama dan sinergitas antara semua pihak baik itu Pemerintah, pihak swasta, Swadaya masyarakat dan juga masyarakat sekitar kawasan yang akan berhubungan langsung dengan satwa ini.

Mari kita jaga Kekayaan dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia yang beragam ini,
Agar tidak hilang dan punah nanti!

SALAM LESTARI!


**Photo Gambar: Gajah Sumatera - Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Minggu, 05 April 2020

Orangutan Kalimantan, Primata Endemik Indonesia yang terancam

ORANGUTAN KALIMANTAN

Pongo pygmaeus

Orangutan Kalimantan dikelompokkan menjadi 3 sub-spesies (Groves, 2001; Warren et al., 2001):

1. Pongo pygmaeus pygmaeus, mulai dari barat laut Kalimantan (termasuk Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum) di utara Sungai Kapuas, di seberang negara bagian Sarawak (Malaysia),

2. Pongo pygmaeus wurmbii, mulai dari selatan sungai Kapuas di Kalimantan Barat sampai timur sungai Barito di Kalimantan Tengah,

3. Pongo pygmaeus morio yang berkisar di seluruh Sabah dan Timur. Kalimantan selatan ke sungai Mahakam.

 Gambar 1. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

HABITAT DAN PERILAKU

Orangutan Kalimantan menghuni hutan dataran rendah tropis dan hutan rawa sampai 500 m di atas permukaan laut, kadang-kadang mulai lebih tinggi atau di habitat yang terdegradasi.

Orangutan adalah hewan Arboreal terbesar, yaitu makhluk yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan dan menghabiskan seluruh kehidupan mereka di pepohonan. Namun orangutan, terutama jantan, menghabiskan waktu mencari makan atau bepergian di lapangan. 

Orangutan membuat sarang yang tinggi di atas pohon setiap malam, dengan melekukkan atau mematahkan dahan pohon, kemudian menambahkan ranting-ranting. Terkadang mereka juga menambahkan bantal dari ranting dan atau atap dari ranting, sebagai payung jika hujan untuk melindungi dirinya dari air hujan. Umumnya orangutan liar betina dan mempunyai anak, sarangnya lebih besar dan pada kanopi yang tinggi. Sedangkan orangutan jantan dewasa yang mempunyai badan besar, sarangnya jarang pada puncak kanopi.

MAKANAN

Orangutan sebagian besar adalah frugivore (Pemakan Buah Hutan), dengan lebih dari 100 jenis buah biasanya tercatat dalam makanan mereka dari satu area jelajah.

Jenis makanan orangutan meliputi: bunga, daun, lapisan kambium kulit kayu; bagian dalam dari rotan, pandan, jahe-jahean dan palem; rayap, semut dan invertebrata lainnya; madu, jamur dan pada kesempatan yang sangat langka telah diamati orangutan memakan mamalia kecil.

Gambar 2. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Orangutan perlu mengandalkan makanan selama periode kekurangan buah dan sekaligus mengembangkan cadangan lemak untuk membantu mereka melewati periode kekurangan pangan yang ekstrem, atau ‘periode krisis-buah’. Orangutan adalah penyebar benih buah yang penting, baik melalui ‘feses’ atau dengan membawa dan membuang benih saat mereka melewati pepohonan, sehingga memainkan peran kunci dalam ekologi dan regenerasi hutan.

PERILAKU SOSIAL

Orangutan pada dasarnya soliter, dan satu-satunya ikatan permanen yang dimiliki adalah ikatan antara ibu dan bayinya. Para induk orangutan betina ini biasanya hidup berkelompok, terkadang bertemu dua kali atau lebih selama periode ketersediaan pakan yang tinggi sehingga memungkinkan mereka mempertahankan ikatan tersebut; saat berkelompok, para bayi orangutan bermain dan belajar bersama serta berbagi pelajaran tentang perilaku yang baru mereka dapatkan.

Orangutan jantan akan meninggalkan induknya untuk mencegah perkawinan sedarah dan menjadi dewasa secara seksual di usia sekitar 15 tahun.

Orangutan tumbuh semakin besar antara usia 18 dan 20 tahun serta mengembangkan karakteristik seksual sekunder mereka yang berupa bantalan pipi dan kantung suara, yang digunakan untuk membuat long call ketika mereka ingin menarik perhatian para betina dan memberi peringatan kepada orangutan jantan lainnya. Orangutan jantan berkompetisi untuk menjadi dominan, meskipun sebagian besar populasi bayi orangutan berasal dari jantan yang tidak dominan berusia 15-20 tahun yang belum mencapai ukuran tubuh maksimal dan mampu memaksa betina untuk berkopulasi

REPRODUKSI

Orangutan betina melahirkan satu bayi sekali setelah mengandung selama 8,5 bulan, dan tidak akan memiliki bayi lagi hingga bayi pertamanya mencapai usia 7 tahun. Ini adalah jarak antar kelahiran terpanjang dalam dunia hewan dan memungkinkan induknya untuk memberikan perhatian penuh pada sang bayi dengan mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan mandiri, termasuk membuat sarang, mengenali jenis pakan alami, dan menghindari predator. Bayi orangutan ini juga tetap tinggal dengan induknya untuk mendapatkan perlindungan dan mempelajari kehidupan di hutan, terutama untuk mengetahui di mana semua sumber pakan penting ada, sampai saatnya ia meninggalkan induknya.

Orangutan adalah makhluk yang sangat cerdas. Mereka dapat memanfaatkan hal-hal di lingkungan sekitarnya untuk peralatan dan obat-obatan. Populasi orangutan yang berbeda bisa menunjukkan perilaku unik dalam mengatasi masalah yang sama dengan cara yang berbeda. 

Orangutan belajar dari orangutan lain dan biasanya mereka akan membagi keterampilannya sendiri saat mereka bertemu, terutama saat ketersediaan pakan tinggi.

Di pusat Lembaga Konservasi Taman Satwa Lembah Hijau Lampung, didalam kandang peraga terdapat batang pohon buah Durian. Yang mana jika musim berbuah, Orangutan akan memanjat sampai ke ujung untuk mendapatkan buah Durian. Terkadang, belum sampai masa panen buah Durian sudah habis dimakan terlebih dahulu.

Gambar 3. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) Taman Satwa Lembah Hijau

KONSERVASI

Populasi Orangutan mengalami penurunan pada tingkat yang cepat karena;

(1) konversi hutan, terutama untuk perkebunan kelapa sawit dan bentuk pertanian lainnya;

(2) bentuk kehilangan hutan lainnya, terutama kebakaran hutan di lahan gambut yang dikeringkan;

(3) degradasi hutan oleh pembalakan liar dan

(4) perburuan orangutan untuk makanan dan penangkapan untuk perdagangan hewan peliharaan. 

Sekitar sepertiga orangutan ditemukan di hutan konservasi dan sisanya berada di bawah ancaman berat.

Mereka diklasifikasikan sebagai Satwa Terancam Punah oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN) dan satwa dilindungi Undang-undangIndonesia.

Ayo kita "Kenali, Cintai dan Leatarikan" Satwa Liar Endemik Indonesia, Demi Kita...Anak Kita dan Mereka (Orangutan)🙏

Salam Konservasi, SalamLestari 💪

Mengenal OWA SIAMANG si hitam yang "Setia" di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Pengembangbiakan (Breeding) Owa Siamang di Lembah Hijau Indonesia merupakan rumah bagi primata, karena dari 250 spesies primata yang ada di ...