Tampilkan postingan dengan label satwa liar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label satwa liar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2023

Owa Siamang "si hitam" yang setia

Owa Siamang (Hylobates syndactylus) termasuk jenis kera yang tidak berekor seperti gorila, simpanse, maupun orangutan.

Owa Siamang dikenal sebagai salah satu primata dengan kemampuan memanjat terbaik, berkat kedua tangan super panjang, tubuh ramping dan tulang ringan yang memudahkan mereka untuk berayun.
Gambar 1. Owa Siamang yang sedang berayun

Owa Siamang memiliki kantung tenggorokan berwarna keabu-abuan hingga merah muda yang dapat mengembang hingga seukuran jeruk bali  dan menghasilkan suara nyaring yang dikeluarkan oleh siamang, kantung ini disebut Kantung Gular

Gambar 2. Kantung Gular pada Owa Siamang 

dan memiliki lengan panjang dan Siamang juga biasa di sebut Owa Sumatra. Siamang merupakan jenis owa terbesar dari sekitar 18 jenis owa di seluruh dunia. Meskipun yang terbesar dari jenis owa, mereka tetap tidak sebanding dengan primata bertubuh besar lainnya seperti gorila, simpanse, maupun orangutan.

Wilayah persebaranya di Semenanjung Malaya, tepatnya di Pulau Sumatra sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Habitat asli
Siamang ada di hutan primer dataran rendah sampai ketinggian 1.300 mdpl (Hardjosentono, 1978).

Selasa, 01 Desember 2020

Mengenal Perilaku "Musth" pada Gajah Jantan

Kehidupan gajah jantan sangat berbeda, dimana menjelang dewasa gajah jantan akan menghabiskan lebih banyak waktu di luar kelompoknya dan bergaul dengan gajah jantan dari luar atau bahkan kelompok lain.

Pada kelompok, gajah betina dewasa akan menjadi agresif terhadap gajah jantan yang masuk kedalam kelompoknya dan akan mendorongnya untuk keluar meninggalkan kelompok secara permanen. Setelah sang jantan pergi meninggalkan kelompok, mereka akan hidup sendiri atau bersama gajah jantan lainnya.

Terdapat hierarki di antara para gajah jantan, baik pada gajah jantan yang menyendiri maupun pada yang berkelompok. Dominasi bergantung pada usia, besar tubuh, dan kondisi seksual. Jantan yang lebih tua tampak mampu mengendalikan keagresifan jantan yang lebih mudah dan mencegah mereka membentuk “geng”.

Gajah jantan dan betina akan berkumpul dengan kelompok apabila terdapat gajah betina yang sedang mengalami siklus estrus untuk kawin dan bereproduksi.

"Musth"
Musth adalah suatu keadaan yang muncul secara periodik pada Gajah Jantan dewasa, berumur 15 tahun keatas yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan hormon Reproduksi (testosteron) yang sangat signifikan hingga 60 kali lebih besar dari keadaan Gajah normal.

Gajah jantan pertama kali memasuki periode musth pada umur 15 tahun sampai 25 tahun. Gajah jantan muda tampaknya memasuki periode musth pada musim kemarau (Januari–Mei), sementara gajah jantan yang lebih tua mengalaminya pada musim hujan (Juni–Desember).

Ciri-ciri  gajah yang sedang mengalami Musth, adalah:

- Keluarnya cairan kekuningan, kental dan bau yang khas dari kelenjar temporal (Ossa temporalis) dikedua sisi kulit wajahnya.

- Keluarnya air kencing (urin) dengan penis yang masih berada di dalam kulupnya, sehingga air seni akan mengalir dan menetes ke tungkai belakangnya.

- Berjalan dengan kepala yang terangkat dan berayun, tatapan mata tajam kedepan dan daun telinga yang terbuka.

- Mengorek tanah dengan gading, membuat suara gaduh, dan membentangkan satu telinga saja pada satu waktu.

- Peroliode Musth dapat berlangsung antara sehari hingga empat bulan.

Pada saat Musth, gajah jantan akan menjadi sangat agresif. Dalam perjumpaan sesama gajah jantan, gajah yang mengalami musth biasanya akan  lebih mengancam, mengejar, dan melakukan perkelahian ringan menggunakan gadingnya dan gajah jantan yang sedang mengalami musth lah biasanya yang menang.

Namun jika kedua menunjukkan tanda-tanda sedang musth, maka gajah yang postur tubuh yang lebih besarlah yang menang dan jika postur tubuh keduanya sama besar, maka mereka cenderung menghindari satu sama lain.

Nah, begitulah perilaku gajah jantan pada masa "Musth"
Jika menemui gajah jantan dengan perilaku dan ciri-ciri seperti itu, lebih baik jangan mendekat ya 🤗
Demi keamanan dan keselamatan semua 🙏

Salam Konservasi, Salam Lestari 💪👍

***Photo Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
Jl. Raden Imba Kesuma Ratu No.21 Sukadanaham
Tanjungkarang Barat - Bandar Lampung
Telp: 0721-8050000
Cp  : 0813-79788807

PUSTAKA:

Rabu, 25 November 2020

Harimau Sumatera "Si Belang" yang langka

"Si Belang" Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan predator penting yang dapat menjaga keseimbangan mata rantai makanan (food chains) dalam hutan  pulau Sumatera, berkurangnya jumlah Harimau Sumatera berdampak populasi Babi Hutan tak terkendali dan dapat menjadi hama bagi masyarakat disekitar hutan.

         Gambar 1. Harimau Sumatera

Deskripsi Harimau Sumatera:
Harimau Sumatera mempunyai warna paling gelap diantara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Belang harimau sumatra lebih tipis dari pada subspesies harimau lain. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain,terutama harimau jantan. 

    Gambar 2. Corak Belang Harimau Sumatera

Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang. Harimau sumatera umumnya beraktifitas dimalam hari.

    Gambar 3.  Harimau yang sedang berenang

Harimau Sumatera bukan jenis satwa yang biasa tinggal berkelompok melainkan jenis satwa soliter, yaitu satwa yang sebagian besar waktunya hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau memelihara anak.

Panjang Harimau Sumatera jantan dapat mencapai 2,2 – 2,8 meter, sedangkan betina 2,15 – 2,3 meter. Tinggi diukur dari kaki ke tengkuk rata-rata adalah 75 cm, tetapi ada juga yang mencapai antara 80 – 95 cm, dan berat 130 – 255 kg. Hewan ini mempunyai bulu sepanjang 8 – 11 mm, surai pada Harimau Sumatera jantan berukuran 11 – 13 cm. Bulu di dagu, pipi, dan belakang kepala lebih pendek. Panjang ekor sekitar 65 – 95 cm.

Gambar 4. Harimau Sumatera betina

(Direktorat Pelestarian Alam, 1986 ; Hafild dan Aniger, 1984 ; Kahar, 1997 ; Macdonald, 1986 ; Mountfort, 1973 ; Saleh dan Kambey, 2003 ; Sutedja dan Taufik, 1993 ; Suwelo dan Somantri, 1978 ; Treep, 1973).

Klasifikasi ilmiah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae):
Kerajaan: Animalia;

Filum: Chordata;

Kelas: Mammalia;

Ordo: Carnivora;

Famili:Felidae;

Genus: Panthera;

Spesies: Panthera tigris;

Upaspesies: Panthera tigris sumatrae.

Nama trinomial: Panthera tigris sumatrae (Pocock, 1929).

Makanan:
Harimau Sumatera termasuk jenis Carnivora yang biasanya memangsa : Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus sp.), dan Babi hutan  (Sus sp.). Kerbau liar (Bubalus bubalis), Tapir (Tapirus indicus), Kera (Macaca ), Landak (Hystrix brachyura), Trenggiling (Manis javanica), jenis-jenis Reptilia seperti kura-kura, ular, dan biawak, serta berbagai jenis burung, ikan, dan kodok dan jenis-jenis satwa liar lainnya. Hewan peliharaan atau ternak yang juga terkadang menjadi mangsa Harimau, diantaranya adalah Kerbau, kambing, domba, sapi, Anjing dan ayam.

Gambar 3. Harimau Sumatera bermain air

Reproduksi:
Harimau sumatra dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun binatang ada yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri.

Gambar 5. Harimau Sumatera kawin

Habitat:

Tipe lokasi yang biasanya menjadi pilihan habitat Harimau Sumatera di Indonesia bervariasi, dengan ketinggian antara 0 – 3000 meter dari permukaan laut, seperti :
Hutan hujan tropis, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, hutan savana, hutan terbuka, hutan pantai, dan hutan bekas tebangan.
Pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, dan pantai air tawar.
Padang rumput terutama padang alang-alang.
Daerah datar sepanjang aliran sungai, khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis.
Juga sering terlihat di daerah perkebunan dan tanah pertanian.
Selain itu juga banyak harimau ditemui di areal hutan gambut.

        Gambar 5. Harimau Sumatera

Terdapat 9 subspesies harimau yang tiga diantaranya telah dinyatakan punah. Kesembilan subspisies harimau tersebut adalah:
1.Harimau Indochina (Panthera tigris corbetti) terdapat di Malaysia, Kamboja, China, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.
2.Harimau Bengal (Panthera tigris tigris) Bangladesh, Bhutan, China, India, dan Nepal.
3.Harimau Cina Selatan (Panthera tigris amoyensis) China.
4.Harimau Siberia (Panthera tigris altaica) dikenal juga sebagai Amur, Ussuri, Harimau Timur Laut China, atau harimau Manchuria. Terdapat di China, Korea Utara, dan Asia Tengah di Rusia.
5.Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) terdapat hanya di pulau Sumatera, Indonesia.
6.Harimau Malaya (Panthera tigris jacksoni) terdapat di semenanjung Malaysia.
7.Harimau Caspian (Panthera tigris virgata) telah punah sekitar tahun 1950an. Harimau Caspian ini terdapat di Afganistan, Iran, Mongolia, Turki, dan Rusia.
8.Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) telah punah sekitar tahun 1972. Harimau Jawa terdapat di pulau Jawa, Indonesia.
9.Harimau Bali (Panthera tigris balica) yang telah punah sekitar tahun 1937. Harimau Bali terdapat di pulau Bali, Indonesia.

PERINGATAN

Harimau Sumatera termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:
Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2)).

Ayo!!

Bersama kita "Kenali, Cintai dan Lestarikan" satwa langka Indonesia,agar tidak punah nanti. 🙏

Salam Konservasi, salam lestari 💪

***Gambar Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Minggu, 05 April 2020

Orangutan Kalimantan, Primata Endemik Indonesia yang terancam

ORANGUTAN KALIMANTAN

Pongo pygmaeus

Orangutan Kalimantan dikelompokkan menjadi 3 sub-spesies (Groves, 2001; Warren et al., 2001):

1. Pongo pygmaeus pygmaeus, mulai dari barat laut Kalimantan (termasuk Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum) di utara Sungai Kapuas, di seberang negara bagian Sarawak (Malaysia),

2. Pongo pygmaeus wurmbii, mulai dari selatan sungai Kapuas di Kalimantan Barat sampai timur sungai Barito di Kalimantan Tengah,

3. Pongo pygmaeus morio yang berkisar di seluruh Sabah dan Timur. Kalimantan selatan ke sungai Mahakam.

 Gambar 1. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

HABITAT DAN PERILAKU

Orangutan Kalimantan menghuni hutan dataran rendah tropis dan hutan rawa sampai 500 m di atas permukaan laut, kadang-kadang mulai lebih tinggi atau di habitat yang terdegradasi.

Orangutan adalah hewan Arboreal terbesar, yaitu makhluk yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan dan menghabiskan seluruh kehidupan mereka di pepohonan. Namun orangutan, terutama jantan, menghabiskan waktu mencari makan atau bepergian di lapangan. 

Orangutan membuat sarang yang tinggi di atas pohon setiap malam, dengan melekukkan atau mematahkan dahan pohon, kemudian menambahkan ranting-ranting. Terkadang mereka juga menambahkan bantal dari ranting dan atau atap dari ranting, sebagai payung jika hujan untuk melindungi dirinya dari air hujan. Umumnya orangutan liar betina dan mempunyai anak, sarangnya lebih besar dan pada kanopi yang tinggi. Sedangkan orangutan jantan dewasa yang mempunyai badan besar, sarangnya jarang pada puncak kanopi.

MAKANAN

Orangutan sebagian besar adalah frugivore (Pemakan Buah Hutan), dengan lebih dari 100 jenis buah biasanya tercatat dalam makanan mereka dari satu area jelajah.

Jenis makanan orangutan meliputi: bunga, daun, lapisan kambium kulit kayu; bagian dalam dari rotan, pandan, jahe-jahean dan palem; rayap, semut dan invertebrata lainnya; madu, jamur dan pada kesempatan yang sangat langka telah diamati orangutan memakan mamalia kecil.

Gambar 2. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Orangutan perlu mengandalkan makanan selama periode kekurangan buah dan sekaligus mengembangkan cadangan lemak untuk membantu mereka melewati periode kekurangan pangan yang ekstrem, atau ‘periode krisis-buah’. Orangutan adalah penyebar benih buah yang penting, baik melalui ‘feses’ atau dengan membawa dan membuang benih saat mereka melewati pepohonan, sehingga memainkan peran kunci dalam ekologi dan regenerasi hutan.

PERILAKU SOSIAL

Orangutan pada dasarnya soliter, dan satu-satunya ikatan permanen yang dimiliki adalah ikatan antara ibu dan bayinya. Para induk orangutan betina ini biasanya hidup berkelompok, terkadang bertemu dua kali atau lebih selama periode ketersediaan pakan yang tinggi sehingga memungkinkan mereka mempertahankan ikatan tersebut; saat berkelompok, para bayi orangutan bermain dan belajar bersama serta berbagi pelajaran tentang perilaku yang baru mereka dapatkan.

Orangutan jantan akan meninggalkan induknya untuk mencegah perkawinan sedarah dan menjadi dewasa secara seksual di usia sekitar 15 tahun.

Orangutan tumbuh semakin besar antara usia 18 dan 20 tahun serta mengembangkan karakteristik seksual sekunder mereka yang berupa bantalan pipi dan kantung suara, yang digunakan untuk membuat long call ketika mereka ingin menarik perhatian para betina dan memberi peringatan kepada orangutan jantan lainnya. Orangutan jantan berkompetisi untuk menjadi dominan, meskipun sebagian besar populasi bayi orangutan berasal dari jantan yang tidak dominan berusia 15-20 tahun yang belum mencapai ukuran tubuh maksimal dan mampu memaksa betina untuk berkopulasi

REPRODUKSI

Orangutan betina melahirkan satu bayi sekali setelah mengandung selama 8,5 bulan, dan tidak akan memiliki bayi lagi hingga bayi pertamanya mencapai usia 7 tahun. Ini adalah jarak antar kelahiran terpanjang dalam dunia hewan dan memungkinkan induknya untuk memberikan perhatian penuh pada sang bayi dengan mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan mandiri, termasuk membuat sarang, mengenali jenis pakan alami, dan menghindari predator. Bayi orangutan ini juga tetap tinggal dengan induknya untuk mendapatkan perlindungan dan mempelajari kehidupan di hutan, terutama untuk mengetahui di mana semua sumber pakan penting ada, sampai saatnya ia meninggalkan induknya.

Orangutan adalah makhluk yang sangat cerdas. Mereka dapat memanfaatkan hal-hal di lingkungan sekitarnya untuk peralatan dan obat-obatan. Populasi orangutan yang berbeda bisa menunjukkan perilaku unik dalam mengatasi masalah yang sama dengan cara yang berbeda. 

Orangutan belajar dari orangutan lain dan biasanya mereka akan membagi keterampilannya sendiri saat mereka bertemu, terutama saat ketersediaan pakan tinggi.

Di pusat Lembaga Konservasi Taman Satwa Lembah Hijau Lampung, didalam kandang peraga terdapat batang pohon buah Durian. Yang mana jika musim berbuah, Orangutan akan memanjat sampai ke ujung untuk mendapatkan buah Durian. Terkadang, belum sampai masa panen buah Durian sudah habis dimakan terlebih dahulu.

Gambar 3. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) Taman Satwa Lembah Hijau

KONSERVASI

Populasi Orangutan mengalami penurunan pada tingkat yang cepat karena;

(1) konversi hutan, terutama untuk perkebunan kelapa sawit dan bentuk pertanian lainnya;

(2) bentuk kehilangan hutan lainnya, terutama kebakaran hutan di lahan gambut yang dikeringkan;

(3) degradasi hutan oleh pembalakan liar dan

(4) perburuan orangutan untuk makanan dan penangkapan untuk perdagangan hewan peliharaan. 

Sekitar sepertiga orangutan ditemukan di hutan konservasi dan sisanya berada di bawah ancaman berat.

Mereka diklasifikasikan sebagai Satwa Terancam Punah oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN) dan satwa dilindungi Undang-undangIndonesia.

Ayo kita "Kenali, Cintai dan Leatarikan" Satwa Liar Endemik Indonesia, Demi Kita...Anak Kita dan Mereka (Orangutan)🙏

Salam Konservasi, SalamLestari 💪

Selasa, 04 Februari 2020

Burung Rangkong, Burung yang Setia

Rangkong adalah burung berukuran besar dari keluarga Bucerotidae (Julang, Enggang, dan Kangkareng).
Ukuran tubuhnya bervariasi mulai dari 65 cm hingga 170 cm. Beratnya juga beragam, dari 290 hingga 4.200 gram.
Paruhnya panjang dan ringan dengan kepakan sayap yang terdengar keras. Rangkong pun tersebar di Afrika, Asia wilayah tropis, serta Indonesia dan Papua Nugini.

     Rangkong Badak (Buceros rhinoceros)

Indonesia memiliki 13 jenis burung Rangkong dan 3 jenis diantaranya merupakan satwa endemik Indonesia, yang berarti hanya ada di Indonesia yaitu 2 jenis terdapat di pulau Sulawesi dan 1 jenis di Pulau Sumba: 
1.Julang Sulawesi (Ryhticeros cassidix), dan
2.Kangkareng Sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus);
3.Julang Sumba (Ryhticeros everetti).

     Julang Sulawesi (Ryhticeros cassidix)

Dan 10 jenis lainnya adalah:
1.Enggang Klihingan (Anorrhinus galeritus),
2.Enggang Jambul (Berenicornis comatus),
3.Julang Jambul-Hitam (Rhabdotorrhinus corrugatus),
4.Julang Emas (Rhyticeros undulatus),
5.Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus),
6.Kangkareng Perut-Putih (Anthracoceros albirostris),
7.Rangkong Badak (Buceros rhinoceros),
8.Enggang Gading (Rhinoplax vigil),
9.Rangkong Papan (Buceros bicornis), dan
10.Julang Papua (Rhyticeros plicatus).

      Julang Emas (Rhyticeros undulatus)

Yang unik dari burung ini adalah, memiliki sifat setia terhadap pasangannya atau disebut Monogami.
Jika salah satu diantara pasangannya mati, maka pasangan lainnya tidak akan pernah kawin lagi seumur hidupnya.
Ini berarti sama saja kita membunuh keduanya.

       Julang Papua (Rhyticeros plicatus)

Karena tak kenal maka tak sayang 🤗
Soo...ayo kenali satwa langka Indonesia...
Kampanyekan pelestarian satwa dilindungi
Agar mereka tidak punah nanti...😍

               Kangkareng Sulawesi
          (Rhabdotorrhinus  exarhatus)

Salam Konservasi!!
Salam Lestari!!!

Mengenal OWA SIAMANG si hitam yang "Setia" di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Pengembangbiakan (Breeding) Owa Siamang di Lembah Hijau Indonesia merupakan rumah bagi primata, karena dari 250 spesies primata yang ada di ...