Selasa, 01 Desember 2020

Mengenal Perilaku "Musth" pada Gajah Jantan

Kehidupan gajah jantan sangat berbeda, dimana menjelang dewasa gajah jantan akan menghabiskan lebih banyak waktu di luar kelompoknya dan bergaul dengan gajah jantan dari luar atau bahkan kelompok lain.

Pada kelompok, gajah betina dewasa akan menjadi agresif terhadap gajah jantan yang masuk kedalam kelompoknya dan akan mendorongnya untuk keluar meninggalkan kelompok secara permanen. Setelah sang jantan pergi meninggalkan kelompok, mereka akan hidup sendiri atau bersama gajah jantan lainnya.

Terdapat hierarki di antara para gajah jantan, baik pada gajah jantan yang menyendiri maupun pada yang berkelompok. Dominasi bergantung pada usia, besar tubuh, dan kondisi seksual. Jantan yang lebih tua tampak mampu mengendalikan keagresifan jantan yang lebih mudah dan mencegah mereka membentuk “geng”.

Gajah jantan dan betina akan berkumpul dengan kelompok apabila terdapat gajah betina yang sedang mengalami siklus estrus untuk kawin dan bereproduksi.

"Musth"
Musth adalah suatu keadaan yang muncul secara periodik pada Gajah Jantan dewasa, berumur 15 tahun keatas yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan hormon Reproduksi (testosteron) yang sangat signifikan hingga 60 kali lebih besar dari keadaan Gajah normal.

Gajah jantan pertama kali memasuki periode musth pada umur 15 tahun sampai 25 tahun. Gajah jantan muda tampaknya memasuki periode musth pada musim kemarau (Januari–Mei), sementara gajah jantan yang lebih tua mengalaminya pada musim hujan (Juni–Desember).

Ciri-ciri  gajah yang sedang mengalami Musth, adalah:

- Keluarnya cairan kekuningan, kental dan bau yang khas dari kelenjar temporal (Ossa temporalis) dikedua sisi kulit wajahnya.

- Keluarnya air kencing (urin) dengan penis yang masih berada di dalam kulupnya, sehingga air seni akan mengalir dan menetes ke tungkai belakangnya.

- Berjalan dengan kepala yang terangkat dan berayun, tatapan mata tajam kedepan dan daun telinga yang terbuka.

- Mengorek tanah dengan gading, membuat suara gaduh, dan membentangkan satu telinga saja pada satu waktu.

- Peroliode Musth dapat berlangsung antara sehari hingga empat bulan.

Pada saat Musth, gajah jantan akan menjadi sangat agresif. Dalam perjumpaan sesama gajah jantan, gajah yang mengalami musth biasanya akan  lebih mengancam, mengejar, dan melakukan perkelahian ringan menggunakan gadingnya dan gajah jantan yang sedang mengalami musth lah biasanya yang menang.

Namun jika kedua menunjukkan tanda-tanda sedang musth, maka gajah yang postur tubuh yang lebih besarlah yang menang dan jika postur tubuh keduanya sama besar, maka mereka cenderung menghindari satu sama lain.

Nah, begitulah perilaku gajah jantan pada masa "Musth"
Jika menemui gajah jantan dengan perilaku dan ciri-ciri seperti itu, lebih baik jangan mendekat ya 🤗
Demi keamanan dan keselamatan semua 🙏

Salam Konservasi, Salam Lestari 💪👍

***Photo Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
Jl. Raden Imba Kesuma Ratu No.21 Sukadanaham
Tanjungkarang Barat - Bandar Lampung
Telp: 0721-8050000
Cp  : 0813-79788807

PUSTAKA:

Mengenal Dua Spesies "Gajah" di Dunia

Gajah adalah mamalia besar dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea.

Terdapat dua spesies Gajah di Dunia, yaitu Gajah Afrika (Loxodonta africana) dan Gajah Asia (Elephas maximus).

 Gambar 1. Gajah Asia (Kiri) --- Gajah Afrika (Kanan)

Gajah merupakan hewan herbivora pemakan rumput, buah, dan akar yang dapat ditemui di berbagai habitat, seperti sabana, hutan, gurun, dan rawa-rawa dan mereka lebih cenderung berada di dekat sumber air.

Gambar 2. Perbedaan Gajah Asia dengan Gajah Afrika

Mamalia darat terbesar ini berukuran 2 sampai 3,6 meter dan memiliki ciri-ciri khusus, yaitu Belalai (proboscis), Gading (Gigi seri yang panjang), Telinga lebar dan Kulit tebal.

Gambar 3. Gajah Sumatera jantan TS Lembah Hijau Lampung

Nah, kamu tahu apa fungsi dari Belalai,  Gading, Telinga lebar dan kulit tebal pada Gajah tersebut?Yuk, kita belajar tentang gajah.

1. BELALAI (Proboscis)
Belalai adalah penggabungan hidung dengan bibir atas, walaupun pada tahap fetus bibir atas dan belalai masih terpisah. Belalai gajah panjang dan terspesialisasi agar dapat dengan mudah digerakkan. Belalai memiliki kurang lebih 150.000 fasikulus otot, tanpa tulang dan sedikit lemak.

Gambar 4. Gajah Sumatera menyabut rumput untuk dimakan - TS Lembah Hijau Lampung

Terdapat dua jenis otot: superfisial (di permukaan) dan internal.
Otot superfisial terbagi menjadi otot dorsal, ventral, dan lateral, sementara otot internal terbagi menjadi otot melintang dan menyebar. Otot-otot belalai terhubung dengan tulang di tengkorak.
Sebagai bentuk hidrostat otot, belalai digerakkan dengan mengkoordinasi kontraksi otot secara tepat. Otot-otot bekerja bersama dan berlawanan satu sama lain. Saraf proboscis yang unik – yang terbentuk dari saraf maksilaris dan fasialis – menjalar di kedua sisi belalai.

Belalai gajah memiliki beberapa fungsi, seperti bernapas, mencium bau, menyentuh, menggapai, dan menghasilkan suara.

Gambar 5. Gajah Sumatera minum air sungai menggunakan bebalai - TS Lembah Hijau Lampung

Indra penciuman gajah mungkin empat kali lebih sensitif daripada anjing bloodhound. Kemampuan belalai untuk melintir dan melingkar memungkinkan pengambilan makanan, bergelut dengan sesamanya, dan mengangkat beban dengan massa hingga 350 kg.

Belalai gajah dapat pula digunakan untuk menyeka mata dan memeriksa lubang pada tubuhnya.

Dengan belalainya, gajah dapat menjangkau ketinggian hingga 7 m dan menggali untuk mencari air di bawah lumpur atau pasir.

Gambar 6. Gajah Sumatera menjangkau maknan - TS Lembah Hijau Lampung

Gajah dapat menghisap air untuk diminum atau disiramkan ke tubuh mereka. Gajah asia dewasa dapat menampung 8,5 liter air di belalainya. Mereka juga menyemprotkan debu atau rumput pada diri mereka sendiri.

Selain itu, saat berada di bawah air, gajah menggunakan belalainya sebagai snorkel untuk bernapas.

Gambar 7. Gajah Sumatera bermain air - TS Lembah Hijau Lampung

Pada Gajah afrika, memiliki dua perpanjangan yang berbentuk seperti jari di ujung belalai, yang memungkinkannya untuk menjangkau dan mengangkut makanan ke mulutnya. Sedangkan, Gajah asia hanya memiliki satu perpanjangan, dan biasanya membelit makanan dengan belalainya dan kemudian memasukkannya ke mulutnya.

Tanpa belalai, gajah sulit bertahan hidup, walaupun terdapat beberapa contoh gajah dengan belalai pendek yang berhasil bertahan (Gajah erin di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur).

Gambar 8. Gajah Sumatera "Erin" yang bebalainya putus karena jerat - Taman Nasional Way Kambas - Lampung

2. GADING (Gigi Seri yang panjang)
Gajah memakan kulit pohon dengan menggunakan gading untuk mengupasnya.
Gading gajah merupakan modifikasi gigi seri kedua di rahang atas

Gambar 9. Gajah Sumatera mencari makan -  TS Lembah Hijau Lampung

Gading tersebut menggantikan gigi susu ketika gajah berumur 6–12 bulan dan tumbuh sekitar 17 cm per tahun.
Gading yang baru tumbuh memiliki lapisan enamel yang nantinya akan luntur. Dentin pada taring disebut gading dan dipenampang melintang terdapat pola garis yang berselang-seling, yang menghasilkan area berbentuk berlian.

Sebagai jaringan yang hidup, Gading sendiri relatif rembut; gading gajah kurang lebih sekeras mineral kalsit.
Sebagian besar gading dapat dilihat dari luar, sementara sisanya melekat pada sendi di tengkorak. Paling tidak sepertiga taring merupakan pulpa dan beberapa taring memiliki saraf yang membentang hingga ke ujung.

Gambar 10. Dua ekor Gajah Sumatera jantan TS Lembah Hijau Lampung

Gading memiliki beberapa fungsi, seperti digunakan untuk menggali untuk menemukan air, garam, dan akar; menguliti atau menandai pohon; dan menyingkirkan pohon dan cabang yang menghalangi jalan. Saat sedang berkelahi, gading digunakan untuk menyerang dan bertahan, serta untuk melindungi belalai.

Gambar 11. Gajah Sumatera jantan yang sedang berkelahi - TS Lembah Hijau Lampung

Seperti manusia yang memiliki preferensi menggunakan tangan kanan atau kiri, gajah juga memiliki preferensi dalam menggunakan gading kiri atau kanannya. Gading yang dominan biasanya tampak sudah sering digunakan karena biasanya lebih pendek dan memiliki ujung yang lebih tumpul.

               Gambar 12. Gajah Afrika

Pada gajah Afrika, baik jantan maupun betina sama-sama memiliki gading, dan panjangnya kurang lebih sama (yaitu mencapai 3 m), namun gading jantan cenderung lebih tebal.
Sementara, pada Gajah asia hanya jantan yang memiliki gading besar. Sedangkan, gajah betina memiliki gading yang sangat kecil dan rapuh (disebut "Caling"), atau bahkan tidak ada sama sekali.
Terdapat pula gajah jantan yang tak bergading, biasa disebutnya dengan sebutan gajah "Dugul".

Gambar 13. Gajah jantan tak bergading (Dugul) - Taman Nasional Way Kambas Lampung

Gading akan terus tumbuh seumur hidup gajah dan biasanya gading gajah jantan tumbuh sekitar 17 sentimeter tiap tahunnya.
Panjang Gading gajah Asia jantan dapat menyamai gading gajah Afrika, tetapi gading gajah Asia biasanya lebih tipis dan ringan; gading gajah Asia terbesar yang pernah diketahui memiliki panjang 3,02 m dan massa 39 kg.

Gading bagi gajah bukan sekadar hiasan unik semata.
Gading gajah memiliki banyak fungsi, misalnya untuk mengambil air, mengangkat batang pohon, bertarung dengan gajah lain, dan melindungi dirinya dari hewan lain.
Gading juga digunakan gajah untuk menandai wilayah kekuasaan mereka dan juga menjadi alat mereka mencari pasangan. Bagi gajah betina, gading yang besar akan membuat gajah jantan terlihat lebih menarik.

Gambar 14. Gajah Sumatera kawin alami - TS Lembah Hijau Lampung

Namun ironisnya, gading tersebut juga yang membuat gajah banyak diburu oleh manusia.

3. TELINGA
Telinga gajah Afrika dua kali lebih besar dari gajah Asia.
Telinga gajah Afrika lebih besar dan berbentuk kotak. Sedangkan gajah Asia, lebih kecil dan berbentuk segitiga.

Gambar 15. Sepasang Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

Pada gajah, telinga berfungsi untuk mengontrol suhu tubuh gajah. Gajah  akan mengepakkan telinga pada saat suhu panas, darah beredar di berbagai pembuluh darah telinga; darah kembali ke kepala dan tubuh sehingga tubuh gajah menjadi dingin, karena gajah mengalami kesulitan dalam mengeluarkan panas dari kulitnya karena rasio luas permukaan terhadap volumenya yang jauh lebih rendah dari manusia selain itu telinga juga bermanfaat untuk menunjukkan peringatan saat ada bahaya atau gajah sedang marah.

Gambar 16. Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

4. KULIT
Kulit gajah pada umumnya sangat keras, dengan ketebalan 2,5 cm di punggung dan sebagian kepalanya. Kulit di sekitar mulut, anus, dan di dalam telinga jauh lebih tipis. Warna kulit gajah pada umumnya abu-abu, tetapi gajah Afrika tampak berwarna kecoklatan atau kemerahan setelah berkubang di lumpur.

Gambar 17. Gajah Sumatera bermain lumpur - TS Lembah Hijau Lampung

Pada kulit Gajah Asia terdapat tanda-tanda depigmentasi, terutama di dahi, telinga, dan kulit di sekitarnya.
Anak gajah memiliki rambut yang berwarna kecoklatan atau kemerahan, terutama di kepala dan punggungnya. Begitu gajah menjadi dewasa, rambut mereka menjadi lebih gelap dan jarang, tetapi konsentrasi rambut dan rambut kejur (bristle) yang padat masih dapat ditemui di ujung ekor, dagu, alat kelamin, dan di sekitar mata dan bukaan mata.
Gajah Asia umumnya memiliki lebih banyak rambut daripada gajah Afrika.
Gambar 18. Depigmentasi pada Belalai Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

Gajah menggunakan lumpur untuk melindungi kulitnya dari sinar ultraviolet, walaupun kulit gajah sebenarnya sangat sensitif. Bila gajah tidak secara rutin berkubang dalam lumpur, kulitnya akan mengalami kerusakan akibat sinar matahari, gigitan serangga, dan hilangnya kelembaban.

Gambar 19. Gajah Sumatera yang sedang beekubang dan bermain lumpur - TS Lembah Hijau

Setelah berkubang, gajah biasanya menggunakan belalainya untuk menyemburkan debu ke tubuhnya, dan debu ini akan mengering menjadi kerak pelindung.
Gambar 20. Gajah Sumatera menyemburkan debu ke tubuhnya - TS Lembah Hijau Lampung

STATUS

IUCN

Pada tahun 2011, IUCN menetapkan status konservasi gajah sumatera ke dalam kategori Critically Endangered (CR). Artinya, satwa ini berada diambang kepunahan. Status CR berada hanya dua tingkat dari status punah di alam liar dan punah sepenuhnya.18

Hukum Republik Indonesia
Status konservasi gajah sumatera dalam sistem hukum di Indonesia termasuk satwa yang dilindungi oleh UU No.5 tahun 1990 dan PP 7/1999. Perlindungan diberikan karena ancaman terhadap kelangsungan hidupnya semakin besar. Ancaman terbesar datang karena rusaknya habitat karena berebut dengan lahan perkebunan dan pertanian. Sehingga sering kali terjadi konflik dengan manusia. Ancaman lain karena perburuan untuk diambil gadingnya.

Demikian sekilas tentang satwa Gajah yang selama ini ada berdampingan dengan kehidupan kita, seyogyanya sebagai Mahluk Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini kita hendaklah berlaku bijak dan punya tanggung jawab bersama dalam melindungi kelangsungan hidup satwa ini yang sangat terancam punah ini.

Salam Konservasi, Salam Lestari!!!


DAFTAR PUSTAKA:

1. Gajah Sumatera dan Gajah Afrika Berbeda. Biodiversity Warrior.

2. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007-2017. Departemen Kehutanan RI.

3. Sumatran Elephant (Elephas maximus ssp.sumatranus). IUCN.

4. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gajah

5. (http://babies-dangerous-wild-animals.blogspot.co.id/) (Dewi Setyawan)

6. Gajah (http://babies-dangerous-wild-animals.blogspot.co.id/) (Dewi Setyawan)

7. Gading gajah. (malangtoday.net)



Sabtu, 28 November 2020

Jenis Rusa Endemik Indonesia yang Terancam Punah

Rusa atau Menjangan (Bahasa Inggris: deer) adalah hewan mamalia pemamah biak (ruminan) yang termasuk familia Cervidae. Salah satu ciri khas Rusa adalah adanya antler (Ranggah). 

Ranggah (antler) berbeda dengan Tanduk (horn), keduanya berbeda dalam hal komponen dan sifat pertumbuhan.

Ranggah adalah sebuah jaringan tulang yang tumbuh ke luar anggota tubuh, mengeras, meluruh, dan tumbuh kembali secara terus menerus.

Sedangkan, Tanduk berbahan dasar keratin dan akan terus menempel tanpa mengalami siklus.


Ada sekitar 34 spesies rusa di seluruh dunia yang terbagi menjadi dua kelompok besar: kelompok rusa dunia lama yang termasuk subfamilia Muntiacinae dan Cervinae; serta kelompok rusa dunia baru, Hydropotinae dan Odocoilinae.

Berikut Beberapa Jenis Rusa Yang Dapat Di Temukan Di Indonesia

1. Sambar Sambar

Rusa sambar merupakan species rusa terbesar di Indonesia.

                Rusa Sambar jantan

Rusa Sambar kadang kala dinamai Rusa Sumatera, Rusa Kalimantan atau Rusa Air serta dalam bahasa latin dikenal sebagai Cervus unicolor. Rusa Sambar menjadi rusa paling besar diantara 3 rusa asli Indonesia lainnya seperti Rusa Timor (Cervus timorensis), Rusa Bawean (Axis kuhlii), dan Kijang (Muntiacus muntjak).

                 Rusa Sambar betina

   Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Rusa sambar terdiri sedikitnya 13 subspesies. Subspecies rusa sambar yang asli berasal dari Indonesia adalah Cervus unicolor equines. Sub Species ini terdapat di daerah Sumatera dan Kalimantan. Selain itu, semenanjung Malaysia dan Thailand juga merupakan habitat alamiahnya.

2. Rusa Bawean

Rusa Bawean (Axis kuhlii) adalah sejenis rusa yang saat ini hanya ditemukan di Pulau Bawean di tengah Laut Jawa. Secara administratif pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

                Rusa Bawean jantan

Spesies ini tergolong langka dan diklasifikasikan sebagai“terancam punah” oleh IUCN. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 300 ekor di alam bebas.

Rusa Bawean hidup dalam kelompok kecil yang biasanya terdiri atas rusa betina dengan anaknya atau jantan yang mengikuti betina untuk kawin. Mereka tergolong hewan nokturnal atau aktif mencari makan di malam hari.

Rusa bawean dewasa jantan mempunyai sepasang tanduk bercabang tiga, sedangkan rusa jantan muda ranggahnya belum bercabang. Pada anak rusa akan terlihat totol-totol yang lama kelamaan akan menghilang, seiring ia tumbuh dewasa.

              Keluarga Rusa Bawean

Rusa bawean dapat hidup dan berkembang biak dengan sempurna di Kawasan Suaka Margastwa yang merupakan habitatnya. Populasi rusa bawean akan berubah mengikuti perubahan atau dinamika lingkungannya. Bila daya dukungnya rendah, produktivitas rusa akan rendah dan akhirnya populasi rusa juga akan rendah atau menurun

3. Rusa Timor

Rusa timor merupakan salah satu rusa asli Indonesia selain rusa bawean, sambar, dan menjangan. Rusa timor yang mempunyai nama latin Cervus timorensis diperkirakan asli berasal dari Jawa dan Bali, kini ditetapkan menjadi fauna identitas provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

                      Rusa Timor

            Taman Satwa Lembah Hijau

Dalam bahasa Inggris, rusa timor mempunyai beberapa sebutan seperti Javan Rusa, Javan Deer, Rusa, Rusa Deer, dan Timor Deer.

4. Kijang

Kijang atau Muntiacus muntjak merupakan salah satu dari empat jenis rusa asli Indonesia. Khusus di Indonesia, kijang dapat ditemukan mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali hingga Lombok.

                       Kijang betina

Jenis rusa yang asli Indonesia ini, bersama anggota genus Muntiacus lainnya, dipercaya sebagai jenis rusa tertua. Kijang berasal dari Dunia Lama dan telah ada sejak 15 – 35 juta tahun yang silam.

Pada masa sekarang, muncak hanya dapat ditemui di Asia Selatan dan Asia Tenggara, mulai dari India, Srilangka, Indocina, hingga kepulauan Nusantara. Beberapa jenis diintroduksi di Inggris dan sekarang banyak dijumpai di sana.

                    Kijang jantan

Kijang tidak mengenal musim kawin dan dapat kawin kapan saja, namun perilaku musim kawin muncul bila kijang dibawa ke daerah beriklim sedang. Jantannya memiliki tanduk pendek yang dapat tumbuh bila patah.

Hewan ini sekarang menarik perhatian penelitian evolusi molekular karena memiliki variasi jumlah kromosom yang dramatis dan ditemukannya beberapa jenis baru (terutama di Indocina).

Tahukah kamu Perbedaan antara Rusa dengan Kijang?

Secara spesifik,berkenaan dengan ciri-ciri fisik ada beberapa hal yang bisa membedakan antara Rusa dengan Kijang,yaitu:

1. Ukuran Tubuh

Rusa lebih besar dibandingkan Kijang.

Rusa Indonesia yang paling besar adalah Rusa Sambar (Cervus unicolor). Kemudian diikuti oleh Rusa Timor (Cervus timorensis), Rusa Bawean (Axis kuhli) dan Kijang (Muntiacus muntjak) dengan ukuran tubuh terkecil.

2. Tanduk

Pada Rusa (baik rusa sambar, rusa timor, maupun rusa bawean) bercabang tiga, panjangnya melebihi panjang kepala mereka bahkan bisa mencapai 1 meter tingginya pada rusa sambar.


Sedangkan pada Kijang, tanduk hanya bercabang dua dan panjangnya hanya sekitar separo dari panjang kepalanya.


Tanduk ini hanya dimiliki oleh rusa dan kijang jantan.

3. Gigi

Gigi taring rusa tidak panjang, sedangkan pada kijang memiliki gigi taring yang panjang dan mengarah keluar.

     Atas: Gigi Kijang; Bawah: Gigi Rusa

Nah...itulah empat jenis Rusa endemik Indonesia yang sudah dilindungi dan terancam punah.

Mari bersama kita "Kenali, Cintai & Lestarikan" satwa asli Indonesia

Demi kita, anak cucu kita dan mereka!

Salam Konservasi

Salam Lestari!!!

Referensi:
  1. Agustinus Suyanto, dkk. 2002. Checklist of The Mammals of Indonesia. LIPI Press
  2. Gono Semiadi. 2004. Sifat Biologi Rusa Bawean (Axis kuhlii). LIPI Press.
  3. Gono Semiadi dan R. Taufiq Purna Nugraha. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. LIPI
  4. Christian Pitra et al. 2004. Evolution and phylogeny of old world deer. Molecular Phylogenetics and Evolution, 33: 880-895.
  5. Groves C.P. and P. Grubb. 1982. The species of muntjac (genus Muntiacus) in Borneo: unrecognised sympatry in tropical deer, Zoologische Mededelingen 56
  6. alamendah.org

  7. id.wikipedia.org

  8. dictio.id

  9. cnnindonesia.com

  10. hutan.fp.unila.ac.id

Rabu, 25 November 2020

Harimau Sumatera "Si Belang" yang langka

"Si Belang" Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan predator penting yang dapat menjaga keseimbangan mata rantai makanan (food chains) dalam hutan  pulau Sumatera, berkurangnya jumlah Harimau Sumatera berdampak populasi Babi Hutan tak terkendali dan dapat menjadi hama bagi masyarakat disekitar hutan.

         Gambar 1. Harimau Sumatera

Deskripsi Harimau Sumatera:
Harimau Sumatera mempunyai warna paling gelap diantara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Belang harimau sumatra lebih tipis dari pada subspesies harimau lain. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain,terutama harimau jantan. 

    Gambar 2. Corak Belang Harimau Sumatera

Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang. Harimau sumatera umumnya beraktifitas dimalam hari.

    Gambar 3.  Harimau yang sedang berenang

Harimau Sumatera bukan jenis satwa yang biasa tinggal berkelompok melainkan jenis satwa soliter, yaitu satwa yang sebagian besar waktunya hidup menyendiri, kecuali selama musim kawin atau memelihara anak.

Panjang Harimau Sumatera jantan dapat mencapai 2,2 – 2,8 meter, sedangkan betina 2,15 – 2,3 meter. Tinggi diukur dari kaki ke tengkuk rata-rata adalah 75 cm, tetapi ada juga yang mencapai antara 80 – 95 cm, dan berat 130 – 255 kg. Hewan ini mempunyai bulu sepanjang 8 – 11 mm, surai pada Harimau Sumatera jantan berukuran 11 – 13 cm. Bulu di dagu, pipi, dan belakang kepala lebih pendek. Panjang ekor sekitar 65 – 95 cm.

Gambar 4. Harimau Sumatera betina

(Direktorat Pelestarian Alam, 1986 ; Hafild dan Aniger, 1984 ; Kahar, 1997 ; Macdonald, 1986 ; Mountfort, 1973 ; Saleh dan Kambey, 2003 ; Sutedja dan Taufik, 1993 ; Suwelo dan Somantri, 1978 ; Treep, 1973).

Klasifikasi ilmiah Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae):
Kerajaan: Animalia;

Filum: Chordata;

Kelas: Mammalia;

Ordo: Carnivora;

Famili:Felidae;

Genus: Panthera;

Spesies: Panthera tigris;

Upaspesies: Panthera tigris sumatrae.

Nama trinomial: Panthera tigris sumatrae (Pocock, 1929).

Makanan:
Harimau Sumatera termasuk jenis Carnivora yang biasanya memangsa : Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus sp.), dan Babi hutan  (Sus sp.). Kerbau liar (Bubalus bubalis), Tapir (Tapirus indicus), Kera (Macaca ), Landak (Hystrix brachyura), Trenggiling (Manis javanica), jenis-jenis Reptilia seperti kura-kura, ular, dan biawak, serta berbagai jenis burung, ikan, dan kodok dan jenis-jenis satwa liar lainnya. Hewan peliharaan atau ternak yang juga terkadang menjadi mangsa Harimau, diantaranya adalah Kerbau, kambing, domba, sapi, Anjing dan ayam.

Gambar 3. Harimau Sumatera bermain air

Reproduksi:
Harimau sumatra dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun binatang ada yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri.

Gambar 5. Harimau Sumatera kawin

Habitat:

Tipe lokasi yang biasanya menjadi pilihan habitat Harimau Sumatera di Indonesia bervariasi, dengan ketinggian antara 0 – 3000 meter dari permukaan laut, seperti :
Hutan hujan tropis, hutan primer dan sekunder pada dataran rendah sampai dataran tinggi pegunungan, hutan savana, hutan terbuka, hutan pantai, dan hutan bekas tebangan.
Pantai berlumpur, mangrove, pantai berawa payau, dan pantai air tawar.
Padang rumput terutama padang alang-alang.
Daerah datar sepanjang aliran sungai, khususnya pada sungai yang mengalir melalui tanah yang ditutupi oleh hutan hujan tropis.
Juga sering terlihat di daerah perkebunan dan tanah pertanian.
Selain itu juga banyak harimau ditemui di areal hutan gambut.

        Gambar 5. Harimau Sumatera

Terdapat 9 subspesies harimau yang tiga diantaranya telah dinyatakan punah. Kesembilan subspisies harimau tersebut adalah:
1.Harimau Indochina (Panthera tigris corbetti) terdapat di Malaysia, Kamboja, China, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam.
2.Harimau Bengal (Panthera tigris tigris) Bangladesh, Bhutan, China, India, dan Nepal.
3.Harimau Cina Selatan (Panthera tigris amoyensis) China.
4.Harimau Siberia (Panthera tigris altaica) dikenal juga sebagai Amur, Ussuri, Harimau Timur Laut China, atau harimau Manchuria. Terdapat di China, Korea Utara, dan Asia Tengah di Rusia.
5.Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) terdapat hanya di pulau Sumatera, Indonesia.
6.Harimau Malaya (Panthera tigris jacksoni) terdapat di semenanjung Malaysia.
7.Harimau Caspian (Panthera tigris virgata) telah punah sekitar tahun 1950an. Harimau Caspian ini terdapat di Afganistan, Iran, Mongolia, Turki, dan Rusia.
8.Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) telah punah sekitar tahun 1972. Harimau Jawa terdapat di pulau Jawa, Indonesia.
9.Harimau Bali (Panthera tigris balica) yang telah punah sekitar tahun 1937. Harimau Bali terdapat di pulau Bali, Indonesia.

PERINGATAN

Harimau Sumatera termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:
Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2)).

Ayo!!

Bersama kita "Kenali, Cintai dan Lestarikan" satwa langka Indonesia,agar tidak punah nanti. 🙏

Salam Konservasi, salam lestari 💪

***Gambar Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) Satwa Endemik Sumatera

Gajah Sumatera adalah salah satu satwa endemik Indonesia yang berasal dari pulau Sumatera, yang artinya satwa ini habitat aslinya hanya terdapat di pulau Sumatera, mulai dari provinsi Aceh sampai provinsi Lampung. Gajah Sumatera termasuk kedalam sub spesies Gajah Asia dengan nama ilmiahnya Elephas maximus sumatrensis.

Gambar 1. Gajah Sumatera Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Selain Gajah Sumatera, yang termasuk kedalam sub spesies Gajah Asia lainnya adalah Elephas maximus indicus dan Elephas maximus maximus.

Gajah Sumatera termasuk hewan sosial yang hidup secara berkelompok di hutan-hutan dataran rendah pulau Sumatera, yang mana setiap kelompok dipimpin oleh satu ekor Gajah betina yang dituakan. Pemimpin kelompok ini lah yang akan memimpin sekawanan Gajah untuk berjalan mencari sumber pakan dan air. Setiap kelompok gajah terdiri dari beberapa ekor Gajah betina dan anak-anaknya, jumlah setiap kelompok ini pun bervariasi, ada yang berjumlah 20-35 ekor dan ada juga yang hanya berjumlah 3 ekor saja.

Gajah jantan yang telah dewasa akan keluar dan menjauh dari kelompok tetapi tetap mengikuti dan memantau kawanan kelompok Gajah dari kejahan dan akan kembali masuk kedalam kelompok jika ada diantara Gajah betina yang sedng birahi atau telah siap untuk dikawinkan. Sedangkan Gajah tua akan memisahkan diri dari kelompok hingga pada akhirnya ia mati.

Pada Gajah Sumatera, terdapat beberapa ciri-ciri khusus yang dapat dilihat dari bentuk fisiknya, seperti:

1.Berat badan Gajah berkisar 3-4 ton, dengan tinggi antara 2-3 meter,
2.Pada bagian atas kepala Gajah Sumatera terdapat dua tonjolan, sedangkan pada gajah afrika lebih rata/ datar,
3.Telinga pada Gajah Sumatera lebih kecil dan berbentuk segitiga, sedangkan pada Gajah Afrika lebih besar dan berbentuk kotak,
4.Pada kaki bagian depan Gajah Sumatera terdapat 5 buah kuku dan 4 buah kuku pada kaki bagian belakang, sedangkan pada Gajah Afrika memiliki 4 buah kuku pada kaki bagian depan dan 3 buah kuku pada kaki bagian belakang,
5.Gading pada Gajah Sumatera hanya terdapat pada Gajah jantan dan pada Gajah betina lebih pendek (disebut Caling) atau cenderung tidak ada.
Sedangkan Gajah Afrika pada Gajah jantan dan betina, keduanya sama memiliki gading.
6.Warna kulit pada Gajah Sumatera lebih terang dan sering terdapat flek putih kemerahan atau disebut Depigmentasi.

Gambar 2. Gajah Sumatera Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Untuk mencari sumber pakan dan air, kawanan gajah akan terus bergerak dan berjalan sejauh 20 Km² setiap hari nya. Dalam sehari, gajah hanya  tidur selama 4 jam dan 16 jam lainnya digunakan gajah untuk bergerak menjelajah dan mencari makan dan air, sisa waktunya digunakan untuk bermain dan berkubang (bermain lumpur).

Gambar 3. Gajah Sumatera bermain lumpur -Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Gajah Sumatera membutuhkan makanan hingga 250 Kg (setara dengan 5-10% dari berat badannya). Makanan Gajah Sumatera adalah rerumputan, dedaunan, ranting, buah dan juga umbi-umbian. Sedangkan untuk minum, Gajah Sumatera membutuhkan 160 liter air setiap harinya.

Pada Gajah Sumatera jantan yang berumur 12-15 tahun akan mengalami periode “Musth”, yaitu masa dimana produksi hormon testoteron akan meningkat yang menandakan bahwa gajah jantan sudah siap kawin. Pada saat musth gajah jantan mengalami perubahan perilaku, lebih agresif, nafsu makan menurun dan suka mengendus-enduskan belalainya.

href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg62pGYJH8kYTkhjfuiRwTOjeu_0bdd3PD2wJ7TAwUPbipBIvNCDkUE4bx3DG8GN1z3zCk6jSOZWTKMgYJjuBZ1f8BglUG2sx1J3BM8K7Aah4-1qh_zAghDz_g4W2IJutV7xUefcuW-i00/s1600/1606317962177752-2.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;">

Selain itu, terjadi perubahan fisik seperti penis yang sering keluar, sering meneteskan urin dan pada dahi (diantara mata dan telinga) akan mengeluarkan cairan berminyak yang berbau khas dan menyengat.

Gambar 5. Gajah Sumatera jantan - Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Sedangkan pada Gajah betina akan siap kawin saat berumur 9-10 tahun. Usia kehamilan Gajah Sumatera adalah selama 20-22 bulan. Dalam satu kali kehamilan biasanya terdapat satu ekor bayi gajah. Bayi normal Gajah Sumatera yang baru lahir memiliki bobot tubuh sekitar 80-100 Kg dengan tinggi berkisar 75-100 cm. Bayi gajah diasuh induknya hingga berumur 18-24 bulan dengan jarak antar kehamilan sekitar 4-6 tahun.

Gambar 6. Gajah Sumatera (Jantan dan Betina) - Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Karena rusaknya habitat gajah akibat pembalakan liar, penyusutan dan fragmentasi habitat serta pembunuhan akibat konflik dan juga perburuan, mengakibatkan populasi gajah Sumatera semakin terancam dan jumlahnya yang semakin berkurang.

Status Konservasi Gajah Sumatera masuk kedalam daftar Satwa yang dilindungi oleh UU No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dan diatur oleh PP. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan satwa Liar.

Sedangkan Lembaga Konservasi Dunia IUCN, Gajah Sumatera berada dalam status Kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah spesies terancam punah.

Demi tercapainya Pelestarian dan penyelamatan Gajah Sumatera dari kepunahan,

Gambar 7. Gajah Sumatera yang sedang kawin - Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Diperlukannya kerjasama dan sinergitas antara semua pihak baik itu Pemerintah, pihak swasta, Swadaya masyarakat dan juga masyarakat sekitar kawasan yang akan berhubungan langsung dengan satwa ini.

Mari kita jaga Kekayaan dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia yang beragam ini,
Agar tidak hilang dan punah nanti!

SALAM LESTARI!


**Photo Gambar: Gajah Sumatera - Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Mengenal OWA SIAMANG si hitam yang "Setia" di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Pengembangbiakan (Breeding) Owa Siamang di Lembah Hijau Indonesia merupakan rumah bagi primata, karena dari 250 spesies primata yang ada di ...