Rabu, 24 Februari 2021

Kenali, 17 Jenis Elang di Indonesia

Dari sekian banyak jenis burung Elang yang tersebar di dunia, setidaknya Indonesia memiliki 17 jenis Elang yang tersebar di seluruh nusantara.

Burung ini merupakan satwa karnivora yang mampu terbang tinggi dan menerkam mangsanya dengan cepat.

➡️ Deskripsi Burung Elang
Elang atau dalam istilah bahasa Inggris disebut Eagle adalah burung pemangsa berukuran besar dari suku Accipitridae, terutama genus Aquila. Sedangkan burung pemangsa lain yang berukuran lebih kecil disebut dengan Elang-alap atau Hawk dari genus Accipiter.

Elang merupakan satwa berdarah panas dengan rentang sayap lebar dan tubuh ditutupi oleh bulu pelepah. Burung ini berkembangbiak dengan cara bertelur.

Ciri telur elang bercangkang keras dan ditempatkan di sarang yang sulit dijangkau, misalnya di lereng gunung atau pohon yang sangat tinggi.

Burung elang adalah hewan karnivora. Mangsa utamanya adalah mamalia kecil, seperti tikus, tupai dan kelinci, serta kadal, ikan, ayam dan burung kecil lain. Bahkan elang juga memangsa serangga tergantung ukuran tubuhnya. Elang yang hidup di wilayah perairan umumnya memakan ikan sebagai menu utama.

Meski tidak memiliki gigi, elang mampu mengoyak dan mencabik daging mangsa dengan paruh serta cakarnya yang tajam. Burung ini juga memiliki indera penglihatan yang sangat tajam dan berguna untuk menentukan sasaran dari ketinggian di udara.

Sistem pernapasan elang sangat baik, burung ini mampu membawa oksigen banyak untuk terbang. Struktur jantung elang juga mirip seperti manusia yang terdiri dari empat bilik, yaitu atrium pada bagian atas dan ventrikel di bagian bawah.

Yuk, kenali jenis Elang apa saja yang ada di Indonesia.Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai elang asli nusantara, antara lain:

1. Elang Hitam
Elang hitam atau Ictinaetus malayensis adalah burung berukuran sedang atau sektiar 70 cm. Akan tetapi saat terbang burung ini terlihat besar dengan rentang sayap lebar. Elang hitam merupakan jenis elang dengan daya survival tinggi dan tersebar di wilayah ketinggian 300 sampai 2.000 mdpl.

Gambar. Elang Hitam (Sumber: Google)

Ciri khas elang hitam adalah sayapnya yang menjari, lebar dan kokoh. Bulu tubuhnya hitam pekat kecuali pada ekornya yang agak kecokelatan dan tumbuh panjang. Bagian dada terdapat corak garis seperti elang brontok serta kaki berwarna kuning. Ciri lain dari elang hitam adalah ukuran jari kelingking pendek dan tidak proporsional.

Burung ini aktif pagi hingga siang hari. Pola terbang yang dilakukannya adalah soaring atau gliding dan sesekali mengeluarkan suara seperti elang ular bido. Saat mencari mangsa, elang hitam akan terbang rendah di atas tajuk pohon untuk membidik tikus, kadal, tupai, ayam dan hewan kecil lainnya.

Elang hitam adalah puncak rantai makanan dalam ekosistemnya. Meski populasinya cenderung cukup banyak, namun penyebarannya terbatas pada kawasan hutan. Elang hitam merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang dan berstatus beresiko rendah (least concern) menghadapi kepunahan.

2. Elang Brontok
Elang brontok atau Spizaetus cirrhatus adalah burung berukuran sedang sekitar 60 cm dan secara morfologi mirip seperti elang jawa. Keunikan elang ini adalah dua fase yang dialaminya, yaitu fase gelam dan fase terang. Selain itu, elang brontok juga tebagi menjadi beberapa ras dan variasi bentuk, seperti elang brontok berjambul atau tanpa jambul.

Gambar. Elang Brontok (Sumber: Google)

Bentuk sayap elang brontok agak membulat dan menekuk sedikit ke atas seperti elang jawa. Akan tetapi, perbedaannya terletak pada ukuran ekor yang lebih pendek, dua titik terang pada sayap serta garis vertikal di bagian dada saat fase terang.

Fase terang elang brontok ditandai dengan bagian bawah tubuh bercorak vertikal mirip elang hitam muda dan elang jawa, serta tubuh bagian atas berwarna cokelat. Fase peralihan ditandai dengan warna bulu keabu-abuan pada bagian bawah dan bagian atas tetap berwarna cokelat. Sedangkan fase peralihan bulu elang brontok akan berubah menjadi hitam pekat seperti elang hitam dewasa, namun tanpa warna kuning pada paruhnya.

Elang brontok sangat jarang mengeluarkan suara. Burung ini termasuk pendiam saat terbang. Mangsa utamanya adalah tikus, tupai, kadal, bajing dan hewan darat berukuran kecil lainnya.

Populasi elang brontok dilindungi oleh undang-undang. Sedangkan menurut IUCN, statusnya berada dalam kondisi resiko rendah atau least concern. Sebaran elang brontok meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

3. Elang Jawa
Elang jawa atau Nisaetus bartelsi adalah burung berukuran sedang dan populasinya sangat langka. Elang endemik Jawa ini identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Burung Garuda. Elang jawa hidup di kawasan hutan primer dan sekunder pada ketinggian 300 mdpl.

Gambar. Elang Jawa (Sumber: Google)

Bentuk sayapnya membulat dan menekuk sedikit ke atas saat melakukan soaring. Ukuran kepalanya tidak terlalu kecil dan cukup proporsional. Ekor elang jawa ukurannya lebih panjang dibanding elang brontok.

Pada bagian kepala terdapat jambul khas dan menjadi ciri utamanya. Tubuhnya didominasi warna cokelat merah dengan dada berwarna putih dan terdapat coretan melintang pada burung dewasa dan berwarna cokelat polos saat elang jawa masih muda.

Kebiasaan terbang elang jawa ialah melakukan soaring atau gliding diatas pepohonan saat berburu. Burung ini cukup pendian dan jarang bersuara, serta nampak anggun saat terbang. Mangsa utamanya adalah kadal, tikus, tupai, kelinci, ayam hutan dan sebagainya.

Burung yang menjadi maskot satwa langka Indonesia sejak 1992 ini berstatus terancam punah atau endangered oleh IUCN. Selain itu, keberadaan elang jawa juga dilindungi oleh undang-undang.

4. Elang Ular Bido
Elang ular bido atau Spilornis cheela adalah burung berukuran sedang antara 50 cm sampai 60 cm. Kebiasaan elang jenis ini ialah mengeluarkan suara berisik. Elang ular bido sangat adaptif sehingga dapat dijumpai di berbagai habitat, mulai dari hutan primer dan sekunder, perkebunan, hutan pantai, sabana hingga daerah dekat dengan pemukiman.

Gambar. Elang Bido (Sumber: Google)

Sayap elang ular bido membusur membentuk huruf C, agak membulat dan memiliki haris tebal berwarna putih bagian tepi sayap. Ekornya berukuran pendek dan sesekali mengipas. Area matanya tidak ditumbuhi bulu. Sedangkan bagian tubuhnya didominasi bulu cokelat tua hingga hitam, serta terdapat totol putih di area dada dan perut.

Elang ular bido mempunyai kebiasaan terbang soaring atau gliding. Selain itu, elang ini juga mempunyai kebiasaan secara gerilya diantara tajuk saat berburu. Satwa ini sering mengeluarkan suara ribu berupa siulan. Mangsa utamanya adalah ulat, kelinci, tikus, kadal, bajing, kelinci dan sebagainya.

Area sebaran elang bido cukup luas dan hampir di seluruh Asia, mulai dari India, Nepal, Srilanka, Cina, Semenanjung Malaya, Sunda Besar, hingga Filipina.

5. Elang Ular Jari Pendek
Elang ular jari pendek atau Circaetus gallicus adala burung besar dengan ukuran 65 cm. Tubuhnya kekar dengan warna bulu pucat. Burung ini sangat jarang terlihat dan disebut sebagai pengunjung musim dingin yang langka oleh McKinnon dalam “Panduan Lapangan: Burung di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Bali”.

Gambar. Elang Ular Jari Pendek (Sumber: Google)

Burung elang jari pendek adalah elang asli Indonesia yang paling sering terlihat di TN. Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Secara lebih luas, burung ini juga tersebar di Iran, India Mongoloa, China, Sumatera, Jawa dan Bali.

Ciri jenis elang ini adalah tubuh kekar dengan bulu bagian atas berwarna cokelat keabuan dan bagian bawah berwarna putih dengan coretan gelap, serta pada tenggorokan dan dada berwarna cokelat. Pada bagian perut terdapat garis-garis melintang samar serta empat garis sama pada ekornya.

Saat remaja warna bulunya lebih pucat dibanding saat dewasa. Ketika terbang sayapnya akan mengembang lebar dan panjang dengan garis mencolok pada penututp sayap. Mata elang ular jari pendek memiliki iris kuning, paruh hitam keabuan, serta kaki kuning kehijauan.

Satwa ini menghuni pinggiran hutan dan semak sekunder. Kebiasan terbangnya melingkar dan meluncur dengan bentangan sayap lurus dan datar. Selain itu, ia juga mempunyai kebiasaan terbang melayang seperti burung alap-alap.

6. Elang Gunung
Elang gunung atau Nisaetus alboniger adalah burung pemangsa berukuran besar. Sebarannya meliputi semananjung Malaysia dan Indonesia. Ukuran tubuhnya sekitar 50 cm hingga 58 cm dengan rentang sayap 100 cm sampai 115 cm dan berat tubuh sekitar 830 gram.

Gambar. Elang Gunung (Sumber: Google)

Secara morfologi elang ini mempunyai ciri jambul panjang, ekor bergaris, dada terdapat coretan, perut bergaris melintang rapat dan warna nyaris hitam. Saat remaja bagian atas cokelat dan bersisik kuning tua, kepala berwarna pucat, bagian bawah kuning tua bergaris cokelat, dan ekor juga bergaris. Iri mata berwarna kuning, paruh abu-abu dan kaki kuning.

Elang gunung mempunyai kebiasaan mengeluarkan siulan nyaring mirip elang jawa. Habitatnya berada di sekitar hutan primer, hutan tebangan perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian 300 sampai 1.200 mdpl. Mangsa utamanya adalah burung, ayam, kadal dan mamalia kecil.

7. Elang Sulawesi
Elang sulawesi bernama ilmiah Nisaetus lanceolatus. Burung ini adalah pemangsa endemik Sulawesi dan pulau-pulau disekitarnya, seperti Bangka, Lembeh, Muna, Butung, Kepulauan Banggai dan Kepulauan Sula.

Gambar. Elang Sulawesi (Sumber: Google)

Habitatnya berada di area hutan hujan dengan mangsa utama seperti tikus, kadal dan burung kecil lain. Ukuran tubuh elang sulawesi sedang atau sekitar 64 cm. Elang dewasa berwarna cokelat karat dengan garis jelas pada kepala dan dada, sayap berwarna cokelat gelap dengan warna putih bergaris hitap pada bagian bawah. Sedangkan elang muda kepalanya berwarna putih.

Populasi elang ini diperkirakan tersisa 5.000 sampai 10.000 individu dan masuk dalam kategori satwa terancam punah oleh IUCN dan oleh CITES masuk kategori Appendix II. Selain itu, burung raptor ini juga termasuk satwa dilindungi oleh undang-undang.

8. Elang Wallace
Elang wallace hidup di daerah hutan Kalimantan dan Sumatera. Sebarannya juga dapat ditemukan hingga selatan Thailand dan Malaysia. Elang dengan nama latin Nisaetus nanus ini mempunyai ukuran tubuh sedang antara 43 sampai 58 cm dengan berat antara 500 sampai 610 gram.

Gambar. Elang Wallace (Sumber: Google)

Sebaran elang ini hampir di seluruh Sumatera, Kalimantan, Bangka dan Nias. Selain itu juga hidup di daerah Sabah, Serawak, Brunei Darussalam, Semenanjung Malaya, termasuk selatan Myanmar dan Thailand. Elang wallace sulit ditemukan di daerah dataran rendah karena umumnya tinggal di kawasan dengan ketinggian 1.000 mdpl, meliputi hutan pinus, rawa dan perkebunan.

Mangsa utama elang wallace adalah kelelawar, burung dan kadal. Kebiasaan saat berburu ialah terbang berpasangan atau dalam kelompok kecil. Gerakan khas yang sering dilakukan adalah seperti terkejut dan terkesan terburu-buru sebelum terbang ke pohon lain.

9. Elang Flores
Elang flores atau Spizaetus floris merupakan raptor atau burung pemangsa endemik Indonesia. Sebelumnya elang jenis ini disamakan dengan elang brontok namun karena terdapat perbedaan morfologis signifikan maka keduanya dipisahkan.

Gambar. Elang Flores (Sumber: Google)

Elang flores terbasuk burung berukuran besar, antara 60 cm sampai 79 cm. Kepalanya putih dan terkadang terdapat garis-garis cokelat pada bagian mahkota. Tubuh bagian atasnya berwarna cokelat kehitaman, dada dan perut putih berpalang cokelat kemerahan tipis. Ekornya berwarna cokelat dengan enam garis gelap, serta berkaki putih.

Daerah sebarannya meliputi pulau flores, sumbawa, lombok, dan sekitarnya. Habitat elang flores adalah hutan submontana di lereng bukit atau kaki gunung, hutan pegunungan setinggi 1.600 mdpl.

Mangsa utamanya adalah kadal, ular, mamalia kecil, serta ayam peliharaan sehingga sering diburu oleh petani. Populasinya diperkirakan kurang dari 100 pasang berdasarkan estimasi sejauh 40 km².

10. Elang Laut Perut Putih
Elang laut perut putih atau elang laut dada putih bernama latin Halieestus leucogaster adalah burung besar dengan ukuran mencapai 85 cm. Elang ini dijuluki raja lautan karena tersebar di wilayah pesisir hingga hutan dataran rendah, beberapa diantaranya dapat hidup di ketinggian 3.000 mdpl.

Gambar. Elang Laut Perut Putih (Sumber: Google)

Ukuran tubuhnya sangat besar dengan sayap kokoh panjang dan lebar. Kepala elang laut perut pendek dan ekornya sangat pendek dan membentuk baji. Bulunya didominasi warna putih dengan sayap membentuk pola hitam pada bagian atas dan hitam-putih pada bagian bawah. Setelah dewasa warna putih akan menjadi cokelat pucat.

Saat berburu mangsa, elang ini melakukan kebiasaan terbang rendah diatas perairan kemudian menyambar mangsa berupa ikan atau burung lainnya. Sebarannya meliputi India, Asia Tenggara, seperti Filipina dan Indonesia, serta Australia.

Elang laut dada putih termasuk satwa dilinduni oleh Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, PP 7 dan 8 tahun 1999.

11. Elang Bondol
Elang bondol atau Haliastur indus merupakan burung maskot DKI Jakarta. Ukuran tubuhnya sedang dan kelestarian populasinya sanga memprihatinkan.

Gambar. Elang Bondol (Sumber: Google)

Elang bondol mempunyai kemiripan dengan elang botak Amerika, namun posturnya lebih kecil. Kemampuan terbang hooveringnya sangat hebat, sehingga masuk dalam kelompok kite.

Ciri fisik elang bondol adalah berwarna putih dan cokelat terang. Pada burung dewasa bagian kepala, leher dan dada berwarna putih. Sedangkan bagian sayap, perut, punggung dan ekor berwarna cokelat terang.

Saat remaja tubuhnya didominasi warna cokelat dengan coretan pada bagian dada. Saat memasuk umur 2 tahun, warnanya akan berubah menjadi putih keabuan dan akan mencapai usia dewasa ketika berumur 3 tahun.

Meski sering terlihat sendirian, satwa ini melakukan perburuan dalam kelompok mencapai 35 ekor. Ia mencari mangsa dengan terbang rendah di atas permukaan air untuk mencari mangsa berupa ikan, udang atau kepiting. Bahkan elang bondol juga memangsa burung lain, seperti camar dara dan sebagainya. Selain itu, ayam, serangga dan mamalia kecil juga menjadi pakan elang ini.

12. Elang Ikan Kepala Abu
Elang ikan kepala abu adalah burung elang besar dengan ukuran sekitar 70 cm. Sebaran di Indonesia meliputi kawasan Jawa Barat dan Jawa Timur meski belum ada laporan terbaru. Sebaran secara lebih luas meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, India, Asia Tenggara, Sunda Besar dan Filipina.

Gambar. Elang Ikan Kepala Abu (Sumber: Google)

Bernama latin Ichthyophaga ichthyaetus, mempunyai sayap membulat dan berbeda dengan elang laut perut putih yang kokoh. Warna bulunya abu-abu, cokelat dan putih.

Burung ini merupakan pemangsa ikan yang hidup di sekitar perairan, danau, sungai dan rawa. Elang ikan kepala abu mempunyai kemampuan menukik dan menerkam ikan dengan sangat baik.

13. Elang Perut Karat
Elang perut karat atau Hieraaetus kienerii merupakan burung berukuran agak kecil yang hidup daerah hutan pegunungan. Sebarannya meliputi wilayah tropis semenanjung asia selatan hingga asia tenggara, seperti India selatan, Himalaya, Filipina, Sulawesi dan Sunda Besar.

Gambar. Elang Perut Karat (Gambar: Google)

Bulunya berwarna kemerahan, hitam dan putih dengan jambul pada bagian kepala. Elang dewasa mempunyai mahkota, pipi dan dagu bawah berwarna kehitaman, ekor cokelat dengan garis hitam tebal dan ujung putih. Dagu, tenggorokan dan dada putih bercoret hitam, serta bagian sisi tubuh, perut paha bawah, dan ekor berwarna cokelat kemerahan dengan coretan hitam. Saat terbang pada pangkal bulu primer nampak bercak bulat pucat.

Sedangkan saat remaja tubuh bagian atas berwarna cokelat kehitaman dengan bercak kehitaman pada mata. Alis dan tubuh bagian bawah berwarna keputih-putihan, iris merah, patuh hitam, sera dan kaki kuning.

Umumnya elang perut karat menempati kawasan pinggiran hutan. Kebiasaan saat terbang mencari mangsa adalah berputar-putar di wilayah teritorinya kemudian meluncur rendah ke tajuk pohon atau permukaan tanah.

14. Elang Tikus
Elang tikus atau Elanus caeruleus adalah burung berukuran sedang antara 30 cm sampai 45 cm. Burung ini memiliki cara terbang yang unik mirip alap-alap, namun sayapnya lebih membulat dan mempunyai mata terang. Sebarannya meliputi dataran rendah dan perbukitan hingga ketinggian 2000 mdpl. Elang tikus termasuk kelompok “kite” yang suka terbang hovering.

Gambar. Elang Tikus (Sumber: Google)

Tubuhnya ditutupi oleh bulu primer hitam panjang dan terdapat bercak hitam pada bahu. Saat dewasa warna bulu mahkota, pungu, sayap pelindung dan pangkal ekor berwarna abu-abu, serta bagian muka, leher dan bulu tubuh bawah berwarna putih.

Elang tikus mempunyai kebiasaan bertengger pada pohon mati atau tiang telepon. Saat di udara dilakukan dengan terbang melayang-layang dan sering berburu di lahan terbuka. Mangsa utamanya adalah belalang, ular, tikus dan burung kecil lain.

CITES memasukkannya dalam kelompok Appendix II. Artinya, burung ini dapat diperdagangkan dengan aturan tertentu. Sedangkan pemerintah Indonesia melindungi elang ini melalui PP No. 7 Tahun 1999.

15. Elang Paria
Elang paria atau Milvus migrans adalah burung pemangsa yang jumlahnya masih cukup banyak. Ukurannya sekitar 65 cm dengan bulu berwarna cokelat gelap dengan bentuk ekor menggarpu yang khas. Bagian kepalanya kadang lebih pucat dibanding bulu punggung.

Gambar. Elang Paria (Sumber: Google)

Saat remaja bagian kepala dan tubuh bagian bawah bergaris-garis kuning tua. Pada bagian iris mata berwarna cokelat, paruh abu-abu, sera dan kaki abu-abu biru. Di Indonesia, elang paria dapat dijumpai di Sumatera bagian utara dan Kalimantan bagian utara, serta jarang ditemukan di Sulawesi dan Sunda Kecil.

16. Rajawali Papua
Rajawali papua atau Harpyopsis novaeguineae berasal dari famili Accipitridae. Elang papua adalah satu-satunya elang yang ada di Indonesia dari kelompok harpiiane, dimana jenis lain seperti elang jambul dan harpy hidup di Amerika.

Gambar. Rajawali Papua (Sumber: Google)

Elang papua bertubuh besar sekitar 75 cm sampai 90 cm dengan rentang lebar sayap mencapai 157 cm dan berat 1,6 kg hingga 2,4 kg. Umumnya betina mempunyai tubuh lebih besar dibanding jantan.

Bagian atas rajawali papua berwarna cokelat abu-abu, dada atas berwana cokelat pucat, mempunyai sayap lebar, paruh kuat dan iris besar. Ekornya mirip elang laut perut putih, yaitu berukuran pendek dan bulunya mirip elang ekor panjang namun lebih kecil. Kaki rajawali papua panjang dan kuat.

Habitat elang papua adalah hutan pada ketinggian 3.200 mdpl dan menjadi elang endemik Papua dan Papua Nugini. Elang ini mempunyai kebiasaan mendatangi bangkai, serta memangsa kuskus, anjing, babi, kadal, burung, ular dan tikus.

17. Rajawali Totol
Elang totol atau Aquila clanga adalah jenis rajawali yang hidup di hutan dataran rendah. Sebarannya sangat luas meliputi Eropa hingga Asia, dimana berkembang biak dari Finlandia sampai Tiongkok. Kemudian pada musim dingin bermigrasi menuju Jepang, Korea, Taiwan, India, Pakisatan, Kamboja, Bangladesh, Malaysia, Singapura dan Indonesia khususnya Sumatera.

Gambar. Rajawali Totol (Sumber: Google)

Ukuran tubuh rajawali totol sekitar 62 cm sampai 74 cm. Bulunya berwarna gelap pucat dengan bulu terbang yang ramping. Sayap bagian bawah berwarna lebih gelap dibanding bulu-bulu terbang. Anak elang totol mempunyai garis melintang dengan bintik-bintik putih pada sayap bagian atas.

Nah, itulah ke 17 jenis burung Elang yang ada di Indonesia.

Ayo...kenali, cintai dan lestarikan satwa asli Indonesia agar keberadaan mereka dapat dilihat oleh anak cucu kita nanti.

Salam Konservasi, Salam lestari!!!

Daftar Pustaka: https://rimbakita.com/elang-di-indonesia/#:~:text=Elang%20atau%20dalam%20istilah%20bahasa,atau%20Hawk%20dari%20genus%20Accipiter.

Selasa, 01 Desember 2020

Mengenal Perilaku "Musth" pada Gajah Jantan

Kehidupan gajah jantan sangat berbeda, dimana menjelang dewasa gajah jantan akan menghabiskan lebih banyak waktu di luar kelompoknya dan bergaul dengan gajah jantan dari luar atau bahkan kelompok lain.

Pada kelompok, gajah betina dewasa akan menjadi agresif terhadap gajah jantan yang masuk kedalam kelompoknya dan akan mendorongnya untuk keluar meninggalkan kelompok secara permanen. Setelah sang jantan pergi meninggalkan kelompok, mereka akan hidup sendiri atau bersama gajah jantan lainnya.

Terdapat hierarki di antara para gajah jantan, baik pada gajah jantan yang menyendiri maupun pada yang berkelompok. Dominasi bergantung pada usia, besar tubuh, dan kondisi seksual. Jantan yang lebih tua tampak mampu mengendalikan keagresifan jantan yang lebih mudah dan mencegah mereka membentuk “geng”.

Gajah jantan dan betina akan berkumpul dengan kelompok apabila terdapat gajah betina yang sedang mengalami siklus estrus untuk kawin dan bereproduksi.

"Musth"
Musth adalah suatu keadaan yang muncul secara periodik pada Gajah Jantan dewasa, berumur 15 tahun keatas yang disebabkan oleh terjadinya peningkatan hormon Reproduksi (testosteron) yang sangat signifikan hingga 60 kali lebih besar dari keadaan Gajah normal.

Gajah jantan pertama kali memasuki periode musth pada umur 15 tahun sampai 25 tahun. Gajah jantan muda tampaknya memasuki periode musth pada musim kemarau (Januari–Mei), sementara gajah jantan yang lebih tua mengalaminya pada musim hujan (Juni–Desember).

Ciri-ciri  gajah yang sedang mengalami Musth, adalah:

- Keluarnya cairan kekuningan, kental dan bau yang khas dari kelenjar temporal (Ossa temporalis) dikedua sisi kulit wajahnya.

- Keluarnya air kencing (urin) dengan penis yang masih berada di dalam kulupnya, sehingga air seni akan mengalir dan menetes ke tungkai belakangnya.

- Berjalan dengan kepala yang terangkat dan berayun, tatapan mata tajam kedepan dan daun telinga yang terbuka.

- Mengorek tanah dengan gading, membuat suara gaduh, dan membentangkan satu telinga saja pada satu waktu.

- Peroliode Musth dapat berlangsung antara sehari hingga empat bulan.

Pada saat Musth, gajah jantan akan menjadi sangat agresif. Dalam perjumpaan sesama gajah jantan, gajah yang mengalami musth biasanya akan  lebih mengancam, mengejar, dan melakukan perkelahian ringan menggunakan gadingnya dan gajah jantan yang sedang mengalami musth lah biasanya yang menang.

Namun jika kedua menunjukkan tanda-tanda sedang musth, maka gajah yang postur tubuh yang lebih besarlah yang menang dan jika postur tubuh keduanya sama besar, maka mereka cenderung menghindari satu sama lain.

Nah, begitulah perilaku gajah jantan pada masa "Musth"
Jika menemui gajah jantan dengan perilaku dan ciri-ciri seperti itu, lebih baik jangan mendekat ya 🤗
Demi keamanan dan keselamatan semua 🙏

Salam Konservasi, Salam Lestari 💪👍

***Photo Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
Taman Satwa Lembah Hijau Lampung
Jl. Raden Imba Kesuma Ratu No.21 Sukadanaham
Tanjungkarang Barat - Bandar Lampung
Telp: 0721-8050000
Cp  : 0813-79788807

PUSTAKA:

Mengenal Dua Spesies "Gajah" di Dunia

Gajah adalah mamalia besar dari famili Elephantidae dan ordo Proboscidea.

Terdapat dua spesies Gajah di Dunia, yaitu Gajah Afrika (Loxodonta africana) dan Gajah Asia (Elephas maximus).

 Gambar 1. Gajah Asia (Kiri) --- Gajah Afrika (Kanan)

Gajah merupakan hewan herbivora pemakan rumput, buah, dan akar yang dapat ditemui di berbagai habitat, seperti sabana, hutan, gurun, dan rawa-rawa dan mereka lebih cenderung berada di dekat sumber air.

Gambar 2. Perbedaan Gajah Asia dengan Gajah Afrika

Mamalia darat terbesar ini berukuran 2 sampai 3,6 meter dan memiliki ciri-ciri khusus, yaitu Belalai (proboscis), Gading (Gigi seri yang panjang), Telinga lebar dan Kulit tebal.

Gambar 3. Gajah Sumatera jantan TS Lembah Hijau Lampung

Nah, kamu tahu apa fungsi dari Belalai,  Gading, Telinga lebar dan kulit tebal pada Gajah tersebut?Yuk, kita belajar tentang gajah.

1. BELALAI (Proboscis)
Belalai adalah penggabungan hidung dengan bibir atas, walaupun pada tahap fetus bibir atas dan belalai masih terpisah. Belalai gajah panjang dan terspesialisasi agar dapat dengan mudah digerakkan. Belalai memiliki kurang lebih 150.000 fasikulus otot, tanpa tulang dan sedikit lemak.

Gambar 4. Gajah Sumatera menyabut rumput untuk dimakan - TS Lembah Hijau Lampung

Terdapat dua jenis otot: superfisial (di permukaan) dan internal.
Otot superfisial terbagi menjadi otot dorsal, ventral, dan lateral, sementara otot internal terbagi menjadi otot melintang dan menyebar. Otot-otot belalai terhubung dengan tulang di tengkorak.
Sebagai bentuk hidrostat otot, belalai digerakkan dengan mengkoordinasi kontraksi otot secara tepat. Otot-otot bekerja bersama dan berlawanan satu sama lain. Saraf proboscis yang unik – yang terbentuk dari saraf maksilaris dan fasialis – menjalar di kedua sisi belalai.

Belalai gajah memiliki beberapa fungsi, seperti bernapas, mencium bau, menyentuh, menggapai, dan menghasilkan suara.

Gambar 5. Gajah Sumatera minum air sungai menggunakan bebalai - TS Lembah Hijau Lampung

Indra penciuman gajah mungkin empat kali lebih sensitif daripada anjing bloodhound. Kemampuan belalai untuk melintir dan melingkar memungkinkan pengambilan makanan, bergelut dengan sesamanya, dan mengangkat beban dengan massa hingga 350 kg.

Belalai gajah dapat pula digunakan untuk menyeka mata dan memeriksa lubang pada tubuhnya.

Dengan belalainya, gajah dapat menjangkau ketinggian hingga 7 m dan menggali untuk mencari air di bawah lumpur atau pasir.

Gambar 6. Gajah Sumatera menjangkau maknan - TS Lembah Hijau Lampung

Gajah dapat menghisap air untuk diminum atau disiramkan ke tubuh mereka. Gajah asia dewasa dapat menampung 8,5 liter air di belalainya. Mereka juga menyemprotkan debu atau rumput pada diri mereka sendiri.

Selain itu, saat berada di bawah air, gajah menggunakan belalainya sebagai snorkel untuk bernapas.

Gambar 7. Gajah Sumatera bermain air - TS Lembah Hijau Lampung

Pada Gajah afrika, memiliki dua perpanjangan yang berbentuk seperti jari di ujung belalai, yang memungkinkannya untuk menjangkau dan mengangkut makanan ke mulutnya. Sedangkan, Gajah asia hanya memiliki satu perpanjangan, dan biasanya membelit makanan dengan belalainya dan kemudian memasukkannya ke mulutnya.

Tanpa belalai, gajah sulit bertahan hidup, walaupun terdapat beberapa contoh gajah dengan belalai pendek yang berhasil bertahan (Gajah erin di Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur).

Gambar 8. Gajah Sumatera "Erin" yang bebalainya putus karena jerat - Taman Nasional Way Kambas - Lampung

2. GADING (Gigi Seri yang panjang)
Gajah memakan kulit pohon dengan menggunakan gading untuk mengupasnya.
Gading gajah merupakan modifikasi gigi seri kedua di rahang atas

Gambar 9. Gajah Sumatera mencari makan -  TS Lembah Hijau Lampung

Gading tersebut menggantikan gigi susu ketika gajah berumur 6–12 bulan dan tumbuh sekitar 17 cm per tahun.
Gading yang baru tumbuh memiliki lapisan enamel yang nantinya akan luntur. Dentin pada taring disebut gading dan dipenampang melintang terdapat pola garis yang berselang-seling, yang menghasilkan area berbentuk berlian.

Sebagai jaringan yang hidup, Gading sendiri relatif rembut; gading gajah kurang lebih sekeras mineral kalsit.
Sebagian besar gading dapat dilihat dari luar, sementara sisanya melekat pada sendi di tengkorak. Paling tidak sepertiga taring merupakan pulpa dan beberapa taring memiliki saraf yang membentang hingga ke ujung.

Gambar 10. Dua ekor Gajah Sumatera jantan TS Lembah Hijau Lampung

Gading memiliki beberapa fungsi, seperti digunakan untuk menggali untuk menemukan air, garam, dan akar; menguliti atau menandai pohon; dan menyingkirkan pohon dan cabang yang menghalangi jalan. Saat sedang berkelahi, gading digunakan untuk menyerang dan bertahan, serta untuk melindungi belalai.

Gambar 11. Gajah Sumatera jantan yang sedang berkelahi - TS Lembah Hijau Lampung

Seperti manusia yang memiliki preferensi menggunakan tangan kanan atau kiri, gajah juga memiliki preferensi dalam menggunakan gading kiri atau kanannya. Gading yang dominan biasanya tampak sudah sering digunakan karena biasanya lebih pendek dan memiliki ujung yang lebih tumpul.

               Gambar 12. Gajah Afrika

Pada gajah Afrika, baik jantan maupun betina sama-sama memiliki gading, dan panjangnya kurang lebih sama (yaitu mencapai 3 m), namun gading jantan cenderung lebih tebal.
Sementara, pada Gajah asia hanya jantan yang memiliki gading besar. Sedangkan, gajah betina memiliki gading yang sangat kecil dan rapuh (disebut "Caling"), atau bahkan tidak ada sama sekali.
Terdapat pula gajah jantan yang tak bergading, biasa disebutnya dengan sebutan gajah "Dugul".

Gambar 13. Gajah jantan tak bergading (Dugul) - Taman Nasional Way Kambas Lampung

Gading akan terus tumbuh seumur hidup gajah dan biasanya gading gajah jantan tumbuh sekitar 17 sentimeter tiap tahunnya.
Panjang Gading gajah Asia jantan dapat menyamai gading gajah Afrika, tetapi gading gajah Asia biasanya lebih tipis dan ringan; gading gajah Asia terbesar yang pernah diketahui memiliki panjang 3,02 m dan massa 39 kg.

Gading bagi gajah bukan sekadar hiasan unik semata.
Gading gajah memiliki banyak fungsi, misalnya untuk mengambil air, mengangkat batang pohon, bertarung dengan gajah lain, dan melindungi dirinya dari hewan lain.
Gading juga digunakan gajah untuk menandai wilayah kekuasaan mereka dan juga menjadi alat mereka mencari pasangan. Bagi gajah betina, gading yang besar akan membuat gajah jantan terlihat lebih menarik.

Gambar 14. Gajah Sumatera kawin alami - TS Lembah Hijau Lampung

Namun ironisnya, gading tersebut juga yang membuat gajah banyak diburu oleh manusia.

3. TELINGA
Telinga gajah Afrika dua kali lebih besar dari gajah Asia.
Telinga gajah Afrika lebih besar dan berbentuk kotak. Sedangkan gajah Asia, lebih kecil dan berbentuk segitiga.

Gambar 15. Sepasang Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

Pada gajah, telinga berfungsi untuk mengontrol suhu tubuh gajah. Gajah  akan mengepakkan telinga pada saat suhu panas, darah beredar di berbagai pembuluh darah telinga; darah kembali ke kepala dan tubuh sehingga tubuh gajah menjadi dingin, karena gajah mengalami kesulitan dalam mengeluarkan panas dari kulitnya karena rasio luas permukaan terhadap volumenya yang jauh lebih rendah dari manusia selain itu telinga juga bermanfaat untuk menunjukkan peringatan saat ada bahaya atau gajah sedang marah.

Gambar 16. Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

4. KULIT
Kulit gajah pada umumnya sangat keras, dengan ketebalan 2,5 cm di punggung dan sebagian kepalanya. Kulit di sekitar mulut, anus, dan di dalam telinga jauh lebih tipis. Warna kulit gajah pada umumnya abu-abu, tetapi gajah Afrika tampak berwarna kecoklatan atau kemerahan setelah berkubang di lumpur.

Gambar 17. Gajah Sumatera bermain lumpur - TS Lembah Hijau Lampung

Pada kulit Gajah Asia terdapat tanda-tanda depigmentasi, terutama di dahi, telinga, dan kulit di sekitarnya.
Anak gajah memiliki rambut yang berwarna kecoklatan atau kemerahan, terutama di kepala dan punggungnya. Begitu gajah menjadi dewasa, rambut mereka menjadi lebih gelap dan jarang, tetapi konsentrasi rambut dan rambut kejur (bristle) yang padat masih dapat ditemui di ujung ekor, dagu, alat kelamin, dan di sekitar mata dan bukaan mata.
Gajah Asia umumnya memiliki lebih banyak rambut daripada gajah Afrika.
Gambar 18. Depigmentasi pada Belalai Gajah Sumatera - TS Lembah Hijau Lampung

Gajah menggunakan lumpur untuk melindungi kulitnya dari sinar ultraviolet, walaupun kulit gajah sebenarnya sangat sensitif. Bila gajah tidak secara rutin berkubang dalam lumpur, kulitnya akan mengalami kerusakan akibat sinar matahari, gigitan serangga, dan hilangnya kelembaban.

Gambar 19. Gajah Sumatera yang sedang beekubang dan bermain lumpur - TS Lembah Hijau

Setelah berkubang, gajah biasanya menggunakan belalainya untuk menyemburkan debu ke tubuhnya, dan debu ini akan mengering menjadi kerak pelindung.
Gambar 20. Gajah Sumatera menyemburkan debu ke tubuhnya - TS Lembah Hijau Lampung

STATUS

IUCN

Pada tahun 2011, IUCN menetapkan status konservasi gajah sumatera ke dalam kategori Critically Endangered (CR). Artinya, satwa ini berada diambang kepunahan. Status CR berada hanya dua tingkat dari status punah di alam liar dan punah sepenuhnya.18

Hukum Republik Indonesia
Status konservasi gajah sumatera dalam sistem hukum di Indonesia termasuk satwa yang dilindungi oleh UU No.5 tahun 1990 dan PP 7/1999. Perlindungan diberikan karena ancaman terhadap kelangsungan hidupnya semakin besar. Ancaman terbesar datang karena rusaknya habitat karena berebut dengan lahan perkebunan dan pertanian. Sehingga sering kali terjadi konflik dengan manusia. Ancaman lain karena perburuan untuk diambil gadingnya.

Demikian sekilas tentang satwa Gajah yang selama ini ada berdampingan dengan kehidupan kita, seyogyanya sebagai Mahluk Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini kita hendaklah berlaku bijak dan punya tanggung jawab bersama dalam melindungi kelangsungan hidup satwa ini yang sangat terancam punah ini.

Salam Konservasi, Salam Lestari!!!


DAFTAR PUSTAKA:

1. Gajah Sumatera dan Gajah Afrika Berbeda. Biodiversity Warrior.

2. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007-2017. Departemen Kehutanan RI.

3. Sumatran Elephant (Elephas maximus ssp.sumatranus). IUCN.

4. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gajah

5. (http://babies-dangerous-wild-animals.blogspot.co.id/) (Dewi Setyawan)

6. Gajah (http://babies-dangerous-wild-animals.blogspot.co.id/) (Dewi Setyawan)

7. Gading gajah. (malangtoday.net)



Sabtu, 28 November 2020

Jenis Rusa Endemik Indonesia yang Terancam Punah

Rusa atau Menjangan (Bahasa Inggris: deer) adalah hewan mamalia pemamah biak (ruminan) yang termasuk familia Cervidae. Salah satu ciri khas Rusa adalah adanya antler (Ranggah). 

Ranggah (antler) berbeda dengan Tanduk (horn), keduanya berbeda dalam hal komponen dan sifat pertumbuhan.

Ranggah adalah sebuah jaringan tulang yang tumbuh ke luar anggota tubuh, mengeras, meluruh, dan tumbuh kembali secara terus menerus.

Sedangkan, Tanduk berbahan dasar keratin dan akan terus menempel tanpa mengalami siklus.


Ada sekitar 34 spesies rusa di seluruh dunia yang terbagi menjadi dua kelompok besar: kelompok rusa dunia lama yang termasuk subfamilia Muntiacinae dan Cervinae; serta kelompok rusa dunia baru, Hydropotinae dan Odocoilinae.

Berikut Beberapa Jenis Rusa Yang Dapat Di Temukan Di Indonesia

1. Sambar Sambar

Rusa sambar merupakan species rusa terbesar di Indonesia.

                Rusa Sambar jantan

Rusa Sambar kadang kala dinamai Rusa Sumatera, Rusa Kalimantan atau Rusa Air serta dalam bahasa latin dikenal sebagai Cervus unicolor. Rusa Sambar menjadi rusa paling besar diantara 3 rusa asli Indonesia lainnya seperti Rusa Timor (Cervus timorensis), Rusa Bawean (Axis kuhlii), dan Kijang (Muntiacus muntjak).

                 Rusa Sambar betina

   Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Rusa sambar terdiri sedikitnya 13 subspesies. Subspecies rusa sambar yang asli berasal dari Indonesia adalah Cervus unicolor equines. Sub Species ini terdapat di daerah Sumatera dan Kalimantan. Selain itu, semenanjung Malaysia dan Thailand juga merupakan habitat alamiahnya.

2. Rusa Bawean

Rusa Bawean (Axis kuhlii) adalah sejenis rusa yang saat ini hanya ditemukan di Pulau Bawean di tengah Laut Jawa. Secara administratif pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.

                Rusa Bawean jantan

Spesies ini tergolong langka dan diklasifikasikan sebagai“terancam punah” oleh IUCN. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 300 ekor di alam bebas.

Rusa Bawean hidup dalam kelompok kecil yang biasanya terdiri atas rusa betina dengan anaknya atau jantan yang mengikuti betina untuk kawin. Mereka tergolong hewan nokturnal atau aktif mencari makan di malam hari.

Rusa bawean dewasa jantan mempunyai sepasang tanduk bercabang tiga, sedangkan rusa jantan muda ranggahnya belum bercabang. Pada anak rusa akan terlihat totol-totol yang lama kelamaan akan menghilang, seiring ia tumbuh dewasa.

              Keluarga Rusa Bawean

Rusa bawean dapat hidup dan berkembang biak dengan sempurna di Kawasan Suaka Margastwa yang merupakan habitatnya. Populasi rusa bawean akan berubah mengikuti perubahan atau dinamika lingkungannya. Bila daya dukungnya rendah, produktivitas rusa akan rendah dan akhirnya populasi rusa juga akan rendah atau menurun

3. Rusa Timor

Rusa timor merupakan salah satu rusa asli Indonesia selain rusa bawean, sambar, dan menjangan. Rusa timor yang mempunyai nama latin Cervus timorensis diperkirakan asli berasal dari Jawa dan Bali, kini ditetapkan menjadi fauna identitas provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

                      Rusa Timor

            Taman Satwa Lembah Hijau

Dalam bahasa Inggris, rusa timor mempunyai beberapa sebutan seperti Javan Rusa, Javan Deer, Rusa, Rusa Deer, dan Timor Deer.

4. Kijang

Kijang atau Muntiacus muntjak merupakan salah satu dari empat jenis rusa asli Indonesia. Khusus di Indonesia, kijang dapat ditemukan mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali hingga Lombok.

                       Kijang betina

Jenis rusa yang asli Indonesia ini, bersama anggota genus Muntiacus lainnya, dipercaya sebagai jenis rusa tertua. Kijang berasal dari Dunia Lama dan telah ada sejak 15 – 35 juta tahun yang silam.

Pada masa sekarang, muncak hanya dapat ditemui di Asia Selatan dan Asia Tenggara, mulai dari India, Srilangka, Indocina, hingga kepulauan Nusantara. Beberapa jenis diintroduksi di Inggris dan sekarang banyak dijumpai di sana.

                    Kijang jantan

Kijang tidak mengenal musim kawin dan dapat kawin kapan saja, namun perilaku musim kawin muncul bila kijang dibawa ke daerah beriklim sedang. Jantannya memiliki tanduk pendek yang dapat tumbuh bila patah.

Hewan ini sekarang menarik perhatian penelitian evolusi molekular karena memiliki variasi jumlah kromosom yang dramatis dan ditemukannya beberapa jenis baru (terutama di Indocina).

Tahukah kamu Perbedaan antara Rusa dengan Kijang?

Secara spesifik,berkenaan dengan ciri-ciri fisik ada beberapa hal yang bisa membedakan antara Rusa dengan Kijang,yaitu:

1. Ukuran Tubuh

Rusa lebih besar dibandingkan Kijang.

Rusa Indonesia yang paling besar adalah Rusa Sambar (Cervus unicolor). Kemudian diikuti oleh Rusa Timor (Cervus timorensis), Rusa Bawean (Axis kuhli) dan Kijang (Muntiacus muntjak) dengan ukuran tubuh terkecil.

2. Tanduk

Pada Rusa (baik rusa sambar, rusa timor, maupun rusa bawean) bercabang tiga, panjangnya melebihi panjang kepala mereka bahkan bisa mencapai 1 meter tingginya pada rusa sambar.


Sedangkan pada Kijang, tanduk hanya bercabang dua dan panjangnya hanya sekitar separo dari panjang kepalanya.


Tanduk ini hanya dimiliki oleh rusa dan kijang jantan.

3. Gigi

Gigi taring rusa tidak panjang, sedangkan pada kijang memiliki gigi taring yang panjang dan mengarah keluar.

     Atas: Gigi Kijang; Bawah: Gigi Rusa

Nah...itulah empat jenis Rusa endemik Indonesia yang sudah dilindungi dan terancam punah.

Mari bersama kita "Kenali, Cintai & Lestarikan" satwa asli Indonesia

Demi kita, anak cucu kita dan mereka!

Salam Konservasi

Salam Lestari!!!

Referensi:
  1. Agustinus Suyanto, dkk. 2002. Checklist of The Mammals of Indonesia. LIPI Press
  2. Gono Semiadi. 2004. Sifat Biologi Rusa Bawean (Axis kuhlii). LIPI Press.
  3. Gono Semiadi dan R. Taufiq Purna Nugraha. 2004. Panduan Pemeliharaan Rusa Tropis. LIPI
  4. Christian Pitra et al. 2004. Evolution and phylogeny of old world deer. Molecular Phylogenetics and Evolution, 33: 880-895.
  5. Groves C.P. and P. Grubb. 1982. The species of muntjac (genus Muntiacus) in Borneo: unrecognised sympatry in tropical deer, Zoologische Mededelingen 56
  6. alamendah.org

  7. id.wikipedia.org

  8. dictio.id

  9. cnnindonesia.com

  10. hutan.fp.unila.ac.id

Mengenal OWA SIAMANG si hitam yang "Setia" di Taman Satwa Lembah Hijau Lampung

Pengembangbiakan (Breeding) Owa Siamang di Lembah Hijau Indonesia merupakan rumah bagi primata, karena dari 250 spesies primata yang ada di ...